top of page

Hasil pencarian

Search this site

9968 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Kisah Plakat Pelantikan Raja Inggris

    Duta Besar Kerajaan Inggris untuk Indonesia HE Moazzam Malik merasa takjub. Ia tak menyangka di Museum Perumusan Naskah Proklamasi (Munasprok) Jakarta, begitu banyak hal-hal terkait dengan negaranya tersimpan. Demikian menurut Jaka Perbawa, salah satu kurator di Munasprok kepada Historia . “Beliau baru tahu bahwa ternyata Munasprok pernah menjadi kediaman para duta besar Inggris di Jakarta” ujarnya. Sejarah memang mencatat bahwa jauh sebelum menjadi museum, gedung itu telah digunakan untuk berbagai kepentingan oleh pemerintah Kerajaan Inggris. Sebagai contoh pada 1930-an, gedung itu difungsikan sebagai kantor Konsulat Jenderal (Konjen) Inggris di Hindia Belanda. Lantas pada 1945-1946, gedung itu juga pernah dijadikan markas besar tentara Inggris yang datang ke Indonesia, sebelum kemudian selama dua dekade (1961-1981) berfungsi sebagai kediaman para duta besar Kerajaan Inggris di Indonesia. Namun yang paling membuat takjub Moazzam Malik adalah kisah ditemukannya plakat yang terbuat dari lempengan besi, penanda untuk memperingati pelantikan Raja Inggris George VI pada 12 Mei 1937. Menurut Jaka, ada kemungkinan plakat tersebut dulu pernah dipasang di pohon beringin (yang pada 2013 sudah ditebang). Plakat itu sendiri bertuliskan: THIS TREE...PLANTED TO COMMEMORATE THE CORONATION OF H.M. KING GEORGE VI MAY 12TH 193. Mengapa plakat bersejarah itu sampai terkubur? “Mungkin seiring waktu dan pertumbuhan pohon, plakat itu terlepas lantas terkubur begitu saja di tanah,” kata Jaka. Begitu terkesannya Moazzam Malik, hingga foto plakat itu “nongkrong” di akun Twitter-nya, @MoazzamTMalik. Di situ ia “berkicau”: “ Museum Proklamasi. Indonesia’s Declaration of Independence drafted here. Former British Residence ~ with a tree to mark George VI Coronation (Museum Proklamasi. Naskah Kemerdekaan Indonesia dirumuskan di sini. Bekas kediaman dubes Inggris ~ dengan sebuah pohon penanda pelantikan George IV).” Plakat itu sendiri ditemukan pada sekira pertengahan Maret 2017. Tepatnya saat pihak museum memutuskan untuk menebang pohon beringin yang letaknya sejajar dengan tiang bendera di halaman depan Munasprok. “Karena kondisinya sudah rapuh dan dikhawatirkan menimpa museum, maka kepala museum memerintahkan untuk meniadakan pohon beringin tua itu sampai ke akar-akarnya. Nah plakat itu ditemukan ketika kami membersihkan sisa-sisa akarnya di dalam tanah,” ujar Jaka. Waktu ditemukan, kondisi plakat sudah patah menjadi lima bagian. Untuk supaya lebih jelas, para kurator museum lalu menyusunnya kembali. Kini, plakat itu masih ditempatkan di ruang penyimpanan dan belum bisa dipertontonkan untuk umum. “Saya sempat konfirmasi ke beliau (Dubes Moazzam), apakah mungkin plakat besi ini satu-satunya yang tersisa di setiap rumah Dubes Inggris di seluruh dunia? Dia bilang, ya mungkin saja ini inisiatif Konjen Inggris saat itu dan jadi satu-satunya yang tersisa,” lanjut Jaka. Hingga kini, pihak museum baru sampai mencari tahu lebih dalam tentang sosok Raja George VI. Belum sampai soal siapa Konsul Jenderal Inggris yang menanam pohon beringin itu. George VI dilantik sebagai raja Inggris menggantikan kakaknya, Edward yang tidak boleh jadi raja karena menikahi rakyat biasa. Kendati banyak yang mendukung, George VI memiliki kekurangan yaitu tidak bisa berbicara lancar. Setelah dilantik, barulah dia dilatih berpidato. Pidatonya dalam Perang Dunia II, jadi penanda bahwa Inggris menyatakan perang terhadap Jerman. Kisahnya itu pernah diangkat ke layar lebar oleh Hollywood berjudul The King’s Speech .

  • Ibu Tien dan Rambut Gondrong

    SITI Hartinah Soeharto atau Ibu Tien dikenang sebagai pribadi yang menyukai ketertiban dan kerapihan, termasuk dalam soal rambut. Banyak kalangan menyebutnya sangat anti jika melihat seorang lelaki memelihara rambut panjang. Setidaknya dalam catatan para wartawan Istana, sudah ada dua jurnalis yang pernah kena tegur Ibu Tien terkait soal itu. Jurnalis pertama adalah Dudi Sudibyo, fotografer senior Kompas yang sudah sejak 1975 ngepos di Istana. Ceritanya, pada 9 April 1981 Presiden Soeharto dan Ibu Tien menjamu para penumpang dan awak pesawat Garuda Indonesia DC-9 Woyla yang baru saja selamat dari upaya pembajakan kelompok Jamaah Imran. Saat melakukan pemotretan, tetiba Dudi merasa rambut gondrongnya ada yang menjambak halus dari belakang. Ternyata Ibu Tien. “Nanti potong ya, rambut gondrongnya,” tegur Ibu Tien sebagaimana dikisahkan Dudi dalam buku 34 Wartawan Istana Bicara tentang Pak Harto. Dudi mengaku memang saat itu belum sempat mencukur rambut. Dia yang sebenarnya kelelahan setelah meliput pembajakan pesawat Woyla di Thailand harus segera kembali ke Jakarta dan meliput acara di Jalan Cendanan tersebut. Akibat peristiwa “penjambakan” itu, Dudi menjadi pergunjingan seru kawan-kawannya sesama jurnalis yang saat itu datang pula ke Cendana. Jurnalis kedua yang mengalami peristiwa nyaris sama adalah Totok Susilo. Fotografer yang saat itu berkarier di harian Sinar Harapan , sempat pula mendapat teguran perihal rambut gondrongnya dari Ibu Tien. Suatu ketika dalam pesawat yang membawa rombongan presiden dari Surabaya ke Jakarta (selepas meresmikan patung Yos Sudarso), Pak Harto dan dan Ibu Tien berkesempatan mendatangi para wartawan Istana yang juga ikut. Saat giliran Ibu Tien menjabat tangan Totok, tetiba sang ibu negara berkata, “ Lho rambutnya kok gondrong?” Demi mendengar teguran itu, Totok pun hanya bisa tersenyum masam. “Ya, ora opo-opo tho. Lha lagek nglakoni (Ya tidak apa-apa. Sedang melakukan tirakat),” kata Pak Harto seolah mewakili Totok untuk menjawab pertanyaan Ibu Tien. Begitu sampai rumah, Totok langsung mencukur rambutnya. Selang beberapa hari dalam sebuah kegiatan di Istana Merdeka, Totok kembali bertemu muka dengan Ibu Tien dan langsung mendapat pujian “ Lha itu bagus. Rapi, kan ,” kata Ibu Tien. Totok mengaku lega sekaligus senang saat dipuji oleh Ibu Tien. Ia pun menjadi mafhum bahwa diam-diam ternyata Ibu Negara sangat memperhatikan penampilan para wartawan yang ngepos di Istananya.*

  • Dua Perempuan dalam BPUPKI

    Dari 62 anggota BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) hanya ada dua perempuan: Maria Ullfah dan Siti Sukaptinah Soenarjo Mangoenpoespito. Kedua perempuan ini telah aktif dalam pergerakan sejak tahun 1920-an. “Kalau dari segi pendidikan Maria Ullfah yang paling tinggi. Semua keluarganya mengenyam pendidikan barat. Tidak semua golongan bisa masuk ketika itu. Seleksinya ketat sekali untuk menjadi anggota BPUPKI,” kata Mutiah Amini, sejarawan Universitas Gadjah Mada. Maria Ullfah merupakan sarjana hukum perempuan Indonesia pertama lulusan Universitas Leiden, Belanda. Sambil mengajar di Perguruan Rakyat dan Perguruan Muhammadiyah, dia memperjuangkan kaum perempuan. Dia menjadi pendiri organisasi Isteri Indonesia. Melalui tulisan-tulisannya, dia menyoroti berbagai peroalan perempuan seperti pernikahan paksa dan buruh perempuan. Dia juga memperjuangkan gagasan perlunya perempuan Indonesia duduk di parlemen dan dewan-dewan kota. Dan yang paling penting adalah memperjuangkan undang-undang perkawinan yang baru terwujud tahun 1974. Sementara itu, Siti Sukaptinah pernah menjadi guru di Taman Siswa dan aktif dalam organisasi Jong Islamieten Bond Dames Afdeling (JIBDA). Dia terlibat dalang Kongres Perempuan I sampai IV, memimpin kantor bagian Wanita Putera, dan ketua Fujinkai Pusat (organisasi perempuan zaman Jepang). Widya Fitria Ningsih, kandidat doktor dari Universitas Amsterdam, mengatakan bahwa Sukaptinah yang mengusulkan peringatan Hari Ibu. Dia juga pernah menuntut “Indonesia Berparlemen” kepada pemerintah Hindia Belanda. “Dia merupakan salah satu elite dalam perjuangan gerakan perempuan. Itu mungkin menjadi salah satu pertimbangan dia terpilih menjadi anggota BPUPKI,” kata Widya. Widya menjelaskan bahwa dalam sidang BPUPKI terdapat pembagian panitia berdasarkan cakupan pembahasan. Terdapat tiga pembagian, Panitia Pertama membahas tentang UUD dan Perumusan Undang-Undang. Panitia Kedua membahas tentang urusan ekonomi dan keuangan, sedangkan Panitia Ketiga membahas mengenai pembinaan tanah air. “Maria Ullfah masuk dalam Panitia Pertama sedangkan Siti Sukaptinah menjadi anggota Panita Ketiga,” kata Widya. Dalam Kongres BPUPKI yang berlangsung antara 28 Mei hingga 1 Juni 1945 dibahas mengenai bentuk negara dan luas wilayah. Akan tetapi yang penting dicatat dalam sejarah perempuan Indonesia ialah usulan Maria Ulfah tentang persamaan hak. “Di sidang ke-2 BPUPKI mambahas tentang kebebasan beragama, dibahas juga tentang hak dasar. Maria Ullfah mengusulkan untuk dicantumkan hak-hak dasar dalam UUD, termasuk persamaan hak antara perempuan dan laki-laki. Dia sangat memperjuangkan itu,” kata Widya. Risalah Sidang BPUPKI-PPKI menyebut bahwa ketika rapat Pantia Perancangan Undang-Undang Dasar tanggal 13 Juli 1945 Maria Ulfah mengusulkan, “Saya memandang perlu hak-hak dasar dimasukkan dalam Undang-Undang Dasar.” Maria kemudian menjadi menteri perempuan pertama dalam Kabinet Sutan Sjahrir. Usulan Maria diterima dan menjadi Pasal 27 ayat (1) UUD 1945 tentang kesetaraan warga negara di hadapan hukum. Atas jasanya itu, Komnas HAM memberikan penghargaan Anugerah HAM kepada Maria Ullfah dan Munir Said Thalib pada 2014.

  • Menulis Mencipta Indonesia

    DR. MAX LANE, Indonesianis dari Victoria University Australia, seringkali bingung tiap kali melihat pameran tentang kebudayaan Indonesia. Yang dipamerkan lazimnya batik hingga angklung. “Itu bukan kebudayaan Indonesia. Batik kebudayaan Jawa. Angkung kebudayaan Sunda. Itu sudah ada sebelum negara Indonesia ada. Itu semua warisan dari Indonesia yang sebelumnya belum ada di bumi manusia,” ujar Max Lane dalam peluncuran bukunya, Indonesia Tidak Hadir di Bumi Manusia: Esai-esai tentang Pramoedya, Sejarah dan Politik di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Sabtu, 12 Agustus 2017. Max Lane mengatakan bahwa salah satu elemen dasar kebudayaan Indonesia adalah menulis. Ini yang dilakukan sastawan besar Indonesia, Pramoedya Ananta Toer lewat sejumlah karyanya, seperti tetralogi Buru: Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca . “Banyak pesan yang terdapat dalam karya-karya Pramoedya yang terinspirasi dari RA Kartini. Pramoedya melihat Kartini sebagai pemikir zaman pencerahan Indonesia. Dalam karya-karya Pramoedya, terkandung pesan-pesan seperti kebangkitan nasional Indonesia di era 1920-an,” kata Max Lane. Max Lane menerjemahkan karya-karya Pramoedya ke dalam bahasa Inggris dan diterbitkan di Australia, Inggris dan Amerika Serikat. Akibatnya, sebagai diplomat muda di Kedutaan Besar Australia di Jakarta, dia ditarik ke negerinya pada 1981. Menurut Max Lane karya-karya Pramoedya penting untuk dibaca oleh generasi muda agar dapat menentukan ke mana arah bangsa ini akan di bawa. Arah bangsa yang sejak era 1950-an selalu memunculkan pertarungan ideologi yang keras. “Setelah Indonesia merdeka, lalu masa depannya mau di bawa ke mana. Makanya di era 1950-an, terjadi pertempuran ideologi. Peristiwa 30 September 1965 jadi titik balik. Orang-orang kiri dipenjara, dibunuh sebagai akibat pertarungan ideologi yang diselesaikan dengan cara kekerasan,” kata Max Lane. Di Indonesia, menurut Max Lane, belum ada sekolah-sekolah menengah yang punya mata pelajaran sastra Indonesia. Padahal, dari sastra dan tulisan pula generasi muda bisa belajar mengenai asal-usul dan budaya Indonesia. “Proses pertama terciptanya Indonesia itu adalah perlawanan terhadap ketidakadilan. Ketidakadilan yang dijalankan kediktatoran kolonialis Hindia Belanda. Yang kedua adalah menulis dan ketiga adalah menyebarluaskan tulisan dan ide-ide. Karena tanpa menulis dan menyebarluaskannya, perlawanan tidak ada gunanya, tidak diketahui dunia,” kata Max Lane. Menurut Max Lane Indonesia juga eksis dan terpelihara sampai sekarang karena revolusi yang memiliki dua sifat utama. Pertama, pembalikan kekuatan kekuasaan seperti yang dilakukan para pejuang terhadap kekuatan penjajah. “Yang kedua, menciptakan sesuatu yang baru. Dalam hal ini, menciptakan Indonesia yang sebelumnya tidak ada di bumi manusia. Tapi setelah tercipta, Indonesia mau dibawa ke mana,” kata Max Lane. Oleh karena itu, Max Lane berpesan agar generasi muda Indonesia aktif mempelajari sastra dan mau berorganisasi. “Karena kalau sendiri, kita tidak bisa buat apa-apa. Kalau bersama-sama dalam berorganisasi, bisa lebih bergerak menentukan masa depan Indonesia,” pungkas Max Lane.*

  • Pencapaian Awal Kebudayaan Nusantara

    MESKI mengadopsi kebudayaan India, Nusantara memiliki beberapa pencapaian paling awal di banding negara itu. Misalnya, untuk pertama kali cerita Ramayana digambarkan dalam relief di Candi Prambanan meski teks kesusastraan Ramayana berasal dari India. “Lagipula cerita Ramayana versi Jawa dan India juga berbeda,” kata Dr. Andrea Acri, peneliti dari Ecole Pratique des Hautes Etudes, Paris, Prancis, dalam seminar "Reviving the Sriwijaya-Nalanda Civilization Trail", di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Senayan, Jakarta, Selasa (8/8). Pencapaian lain adalah candi-candi yang megah. “Prambanan, Borobudur sebagai candi Buddhis terbesar di dunia adanya di Indonesia, bukan di India,” kata Andrea. Selain itu, yang menarik soal penulisan angka nol (0) sebagai angka numerik. Menurut Andrea, penelitian terbaru menunjukkan bukti pertama penggunaan nol muncul di Prasasti Trapeang Prei, Kamboja dan di tiga prasasti era Sriwijaya. Semua berasal dari masa yang sama, yaitu tahun 604 saka (683 M), 200 tahun lebih awal daripada di India. “Nol berasal dari India. Tapi angkanya baru muncul abad 9. Di Kamboja dan Sriwijaya lebih dulu muncul. Ini salah satu achievment, ” ungkap Andrea.Tak hanya itu, Sumatra juga mendapat predikat sebagai tempat terbaik belajar bahasa Sanskerta. Informasi ini didapat dari pengembara asal Cina, Yijing yang pernah menetap di Sriwijaya. Dia menyebut Sriwijaya sebagai pusat studi bahasa Sanskerta sebelum para biksu dan pelajar Buddhis berangkat ke India. “Sebelum ke India para pendeta ini sebaiknya menetap dulu di Sriwijaya. Ini sangat luar biasa. Itu kan bahasa asing,” kata Andrea. Dengan demikian, Sriwijaya menjadi mata rantai penghubung antara India, Asia Tenggara, hingga Cina.

  • Cerita di Balik Biografi Sukarno Karya Sejarawan Jerman

    BERNHARD Dahm mengenal Indonesia dari ibunya, Margarete Beisenherz, putri seorang misionaris, Daniel Beisenherz, yang lahir pada 1906 di Pancur Napitu, Tarutung, Sumatra Utara. Margarete meninggal pada 1942 ketika Bernhard berusia sepuluh tahun. Bernhard kemudian tinggal dengan bibi ibunya, Auguste Beisenherz, seorang biarawati di tanah Batak dan terakhir memimpin rumah sakit di Pearaja, Tarutung. Darinya, dia mendapat cerita banyak tentang Batak dan Indonesia. Setelah Perang Dunia II berakhir, dia terus mendengar berita tentang Indonesia. Dia pun ingin mempelajari lebih jauh tentang Indonesia. “Berbeda dengan teman-teman sebaya di Jerman, saya sudah tahu dengan tepat, di bagian bumi mana negara baru itu terletak. Dan saya mengikuti dengan penuh perhatian peristiwa-peristiwa dalam revolusi Indonesia sampai akhir tahun 1949,” kata Bernhard dalam Amatan Para Ahli Jerman tentang Indonesia.

  • Orang Indonesia yang Berperang untuk Negara Lain

    PERANG yang berkecamuk di berbagai belahan dunia menyeret sejumlah pemuda Indonesia. Mereka ambil bagian sebagai tentara, pilot tempur dan tenaga medis, mulai dari Perang Sipil di Spanyol hingga Perang Pasifik. Alasan mereka terjebak di tengah-tengah berkecamuknya perang karena tak bisa pulang ke Indonesia atau kesukarelaan. Berikut kisah-kisah para pemuda itu: Henry Hoo Lahir di Surabaya pada 1912, putra Hoo Bo Liang yang memiliki nama lahir Hoo Chi Sui ini tercatat sebagai pilot pesawat tempur International Volunteer Brigade. Legiun sukarelawan asing itu memihak kaum republik melawan kaum fasis dalam Guerra Civil atau Perang Saudara Spanyol (1936-1938). Henry Hoo merantau ke Eropa pada 1935. Ketika pecah Perang Saudara di Spanyol, dia salah satu dari sekian orang Tionghoa asal Hindia Belanda yang mendaftar sebagai sukarelawan kontrak. Kisahnya pernah dimuat dalam surat kabar Sin Po pada 1938. Dia mengawaki pesawat Uni Soviet pernah menjatuhkan pesawat terbang Jerman, pendukung utama kaum fasis Spanyol pimpinan Francisco Franco. Setelah selesai kontraknya, Henry beralih ke Zhonghua Minguo Kongjun (Angkatan Udara Republik Cina) untuk melawan Jepang pada 1937. Selain Henry, ada beberapa pilot kelahiran Hindia Belanda, seperti Nio Thiam Seng (Bandung), Tan Tin Ho (Batavia) dan Tan Gie Gan (Surakarta). Tio Oen Bik Tionghoa asal Hindia Belanda yang terlibat dalam Perang Sipil Spanyol juga ada yang berperan sebagai tenaga medis, yaitu dr. Tio Oen Bik. Pemuda kelahiran 1906 itu sebelumnya menimba ilmu kedokteran di Nederlansdsch Indische Artsen School atau sekolah kedokteran pribumi di Surabaya medio 1920-an. Pada 1929, dia melanjutkan studinya di Amsterdam, Belanda, di mana dia mendirikan Sarekat Peranakan Tionghoa Indonesia. Dalam Chinese Migrants and Internationalism: Forgotten Histories 1917-1945 , Gregor Benton mencatat bahwa Tio enggan ikut kawan-kawannya pulang ke Hindia Belanda di masa pergerakan. Dia memilih pergi ke Spanyol untuk bergabung dengan pihak republik melawan fasis. Di sana, dia menangani para korban sipil maupun militer. Menurut Iwan Santosa dalam Tionghoa dalam Sejarah Kemiliteran , tidak hanya Tio yang pernah punya andil di negeri asing. Dalam perang Sino-Jepang, organisasi Hoo Hap asal Cianjur juga berangkat ke Cina untuk melawan Jepang. Beberapa dokter dan staf medis Rumah Sakit Jang Seng Ie (kini Rumah Sakit Husada Jakarta Pusat) juga dikirim ke Cina dengan biaya sumbangan para tokoh anti-Jepang. Abdul Halim Perdanakusuma Lahir di Sampang, Madura pada 18 November 1922, karier kemiliteran Halim dirintis di Koninklijke Marine atau Angkatan Laut Belanda di Modderlust, Surabaya. Halim pun ikut serta dalam perang Pasifik melawan Jepang sebagai operator torpedo. Halim nyaris tewas ketika kapal perang Belanda yang turut diawakinya ditenggelamkan Jepang dekat pantai Cilacap. Selamat dari maut, Halim ikut rombongan serdadu Belanda yang mengungsi ke India. Pertemuannya dengan Panglima Komando Armada Asia Tenggara Lord Louis Mountbatten yang terkesan dengan karya lukisan Halim, membuatnya masuk pendidikan RCAF (Angkatan Udara Kanada) dan dilanjutkan RAF (Angkatan Udara Inggris) sampai lulus sebagai navigator bomber (pesawat pembom) dengan pangkat letnan. Di lingkungan RAF, Halim dijuluki The Black Mascot oleh rekan-rekannya. Pengalaman tempurnya termasuk lumayan: ia pernah melakukan 42 misi pemboman ke wilayah Prancis (yang sedang dikuasai Jerman) dan ke wilayah Jerman sendiri. Halim pun tercatat sebagai navigator pada pesawat pembom Avro Lancaster atau B-24 Liberator sampai akhir Perang Dunia II. Dari Sedjarah Pertumbuhan AURI diketahui, Halim lantas direkrut Komodor Suryadi Suryadharma sebagai salah satu pionir TNI AU sebagai perwira operasi. Saat itu, dia satu-satunya pilot TNI AU dengan wing penerbang RCAF dan memiliki pengalaman tempur di palagan Eropa. Tragisnya, Halim bersama Iswahyudi gugur dalam tugas kala pesawat Avro Anson yang mereka naiki, jatuh di Malaya (kini Malaysia) pada 14 Desember 1947 . Hingga kini penyebab kecelakaan itu masih menjadi misteri. Irawan Soejono Irawan Soejono, putra bangsawan yang sejak muda mengenyam pendidikan di Belanda pada 1934. Ketika Jerman menginvasi Belanda, ayahnya tercatat sebagai pejabat menteri tanpa portofolio dalam kabinet Belanda di London, Inggris. Namun Irawan tetap memilih berada di negeri Tulip bersama para pelajar Indonesia lainnya guna menjadi partisan melawan Jerman. Harry A. Poeze dalam Di Negeri Penjajah mencatat bahwa Irawan ikut terlibat dalam gerakan perlawanan bawah tanah dengan menjadi salah satu direksi surat kabar bawah tanah, De Bevrijding , bersama para pelajar Perhimpunan Indonesia seperti Pamuntjak, Alex Ticoalu, Suripno, IA Mochtar, Rozai Kusumasubrata dan FKN Harahap. Surat kabar itu mendapat simpati dan bantuan dari kelompok bawah tanah lainnya. Dalam suatu insiden, Irawan tewas ditembak serdadu Jerman pada 13 Januari 1945. Perannya melawan Jerman diakui Kerajaan Belanda lewat pemerintah Kota Amsterdam. Namanya diabadikan jadi nama jalan, Irawan Soejonostraat. Tidak hanya Irawan, para pemuda dalam Perhimpunan Indonesia juga ikut terpanggil melawan Jerman. Soebadio Sastrosatomo dalam Perjuangan Revolusi menyebut beberapa di antara mereka tidak hanya bergerak di bawah tanah lewat tulisan, tapi juga angkat senjata. Mereka antara lain Anak Agung Made Djelantik, LN Palar, Sumitro, Zairin Zain, Jusuf Muda Dalam, Suripno, hingga Kusna Puradiredja. Mereka membentuk Barisan Mahasiswa Indonesia dan aktif melakukan sabotase, sampai menyelamatkan orang-orang Yahudi yang hendak dimusnahkan anak buah Hitler. Andi Abdul Azis Putra Bugis kelahiran 19 September 1924 ini sudah pergi ke Belanda sejak pertengahan 1930-an. Tamat dari Leger School pada 1938, Andi Azis bergabung dengan gerakan bawah tanah melawan Jerman. Berbeda dengan para pemuda dari Perhimpunan Indonesia, statusnya sebagai anggota Koninklijke Leger atau Tentara Kerajaan. Perlawanan militer Belanda hanya lima hari. Mereka menyerah setelah diserang Jerman dari arah Belgia dan Luksemburg pada 10 Mei 1940. Andi dan serdadu Belanda yang tak menyerah kabur ke Inggris. Dari Inggris ia bergerak ke India untuk mengikuti pelatihan komando dan lulus dengan pangkat sersan. Pada 19 Januari 1946, Andi pulang ke Indonesia dan memilih masuk KNIL (Tentara Kerajaan Hindia Belanda) dengan pangkat letnan. Andi kemudian menjadi ajudan Presiden Negara Indonesia Timur, Sukowati. Setelah penyerahan kedaulatan 27 Desember 1949, ia meleburkan diri ke Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat. Dalam sejarah Indonesia, Andi tercatat sebagai pemberontak lewat insiden pada 5 April 1950 di Makassar. Pemberontakan itu dipadamkan TNI dan Andi dibui 14 tahun penjara. Atas kebijakan pemerintah, masa tahanannya dipotong menjadi delapan tahun. Selain Andi, masih ada pemuda-pemuda Indonesia yang tergabung dalam tentara Kerajaan Belanda saat melawan Jerman. Harry A. Poeze dalam Di Negeri Penjajah mencatat tiga nama: Eduard Latuperisa, Mas Sumitro dan Victor Makatita. Victor tewas diterjang timah panas Polisi Vichy (negeri Prancis yang pro-Jerman) kala berusaha kabur ke Swiss pada 9 April 1942. Nasib tragis juga dialami Eduard Latuperisa. Eks KNIL yang ikut Orde Dienst itu dijatuhi hukuman mati pada 29 Juli 1943 di Leusderheide. Sementara Serma Mas Sumitro meninggal pada 26 Januari 1944 karena jatuh dari trem. Adolf Gustaaf Lembong Karier militer Adolf Gustaaf Lembong sangat unik. Berbeda dengan pemuda-pemuda Indonesia lainnya, Lembong pernah angkat senjata bukan hanya untuk Belanda dan Indonesia tapi juga negara tetangga: Filipina. Lahir di Ongkaw, Minahasa, 19 Oktober 1910, Lembong masuk KNIL. Masuknya Jepang ke Indonesia membuat Lembong dan serdadu KNIL di Manado dibawa ke kamp interniran di Filipina. Menurut Robert Lapham dan Bernard Norling dalam Lapham’s Raiders, Lembong dan beberapa kompatriotnya seperti Alex Rawung, Jan Pelle, Marcus Taroreh, Marthin Sulu, Alexander Kewas, Albert Mondong, Hendrik Terok, Andries Pacasi dan William Tantang, berhasil kabur dari kamp tahanan di Pulau Luzon, Filipina. Mereka bergabung dengan Luzon Guerilla Armed Forces (LGAF). Memimpin Skadron 202, Lembong sukses menjarah gudang logistik Jepang pada 6 Januari 1945. Sehari setelahnya, dia melakukan penyergapan yang menewaskan 27 tentara Jepang. Dia dan kawan-kawan kembali ke Sulawesi Utara pada 22 Januari 1945. Awalnya Lembong kembali bergabung dengan militer Belanda. Karena Belanda melancarkan Agresi Militer I pada 27 Juli 1947, Lembong membelot ke pihak republik. Lembong tewas oleh gerombolan Angkatan Perang Ratu Adil yang menyerang Markas Staf Kwartier Divisi Siliwangi (kini Museum Mandala Wangsit) di Bandung pada 23 Januari 1950. R. Sudirmo Bunder Tidak hanya Lembong atau kawan-kawannya eks-KNIL yang “terjebak” di tengah-tengah berkecamuknya Perang Pasifik. R. Sudirmo Bunder, mahasiswa kedokteran di California, Amerika Serikat (AS), juga salah satu veteran US Army (Angkatan Darat AS) yang disegani dan dihormati. Sebagaimana dituturkannya kepada penulis Hana Rambe dalam Terhempas Prahara ke Pasifik , Sudirmo mengungkapkan, dirinya yang tengah belajar kedokteran di St. Anthony College, California terkena program wajib militer pasca AS menyatakan perang terhadap Jepang akibat serangan di Pearl Harbor. Setelah menjalani beberapa bulan pelatihan militer, lelaki Jawa kelahiran 12 Februari 1920 itu, ditempatkan di Rainbow Division untuk dikirim ke front Pasifik. Sudirmo terlibat dalam pertempuran melawan tentara Jepang. Mulai dari Rabaul di Papua Nugini, Biak, Hollandia (kini Jayapura), Morotai, Saipan, Iwo Jima, Okinawa, hingga menjejakkan kaki di Tokyo, setelah Jepang menyerah pada Sekutu. Setelah perang usai, Sudirmo dinyatakan AS sebagai warga Belanda lantaran lahir di sebuah negeri koloni Hindia Belanda. Makanya, ketika pecah Perang Korea, Sudirmo eksis sebagai tentara Belanda di bawah panji pasukan perdamaian PBB. Usai perang Korea, Sudirmo pulang ke Indonesia dan bergabung dengan Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD).*

  • 48 Senandung Ibu Pertiwi

    Menjelang peringatan hari ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia, Kementerian Sekretariat Negara kembali menghelat pameran akbar lukisan-lukisan koleksi Istana Kepresidenan pada 2-30 Agustus 2017. Semua lukisan tersebut dibawa dari Istana Negara dan Istana Merdeka Jakarta, Istana Bogor, Istana Cipanas, Istana Yogyakarta, hingga Istana Tampaksiring di Bali. Tema pameran lukisan yang digelar di Galeri Nasional Indonesia di Jalan Medan Merdeka Timur, Jakarta Pusat, tahun ini mengangkat tajuk “Senandung Ibu Pertiwi”. Dari sekian lukisan koleksi istana, dipilih 48 karya besar dari 41 pelukis yang sebelumnya diseleksi sesuai kebutuhan tema pameran. “Semua tentang kekayaan alam, kebudayaan serta manusianya yang beraneka ragam,” ujar kurator pameran Mikke Susanto kepada Historia . Yang dipamerkan juga bukan sembarang karya. Pasalnya ada banyak cerita menarik di balik karya-karya lukisannya. Seperti lukisan “Harimau Minum” karya Raden Saleh Syarif Bustaman, hingga lukisan “Nyai Roro Kidul” karya Basoeki Abdullah. “Juga yang menarik itu lukisan ‘Pantai Flores’ karya Basoeki Abdullah. Lukisan salinan dari goresan Bung Karno sebelumnya yang menggambarkan keindahan Flores saat diasingkan,” kata Mikke. Satu hal lagi, dari 48 lukisan yang dipamerkan, ada satu yang tidak bisa di- display langsung. Yakni lukisan karya Konstantin Egorovick Makovsky. Lukisan aslinya terlampau besar untuk bisa dibawa masuk yakni berukuran 295x450 cm. Disebutkan oleh Mike, lukisan itu sebelumnya merupakan hadiah dari pemimpin Uni Soviet, Nikita Khruschev dan sudah berusia sekira 120 tahun. “Itu karya Konstantin Makovsky yang bertajuk perkawinan adat Rusia. Lukisan tersebut asalnya dari Istana Bogor,” ujar Mikke.

  • Mencegah Keluarga Brayut

    Ki dan Nyi Brayut sepasang suami istri dalam cerita pewayangan yang memiliki banyak anak. Nyi Brayut menggendong anak-anaknya di belakang, sedangkan Ki Brayut memikul anak-anaknya. Wayang Brayut yang dipamerkan di Museum Wayang di Jalan Pintu Besar Utara No. 27 Jakarta Barat, digunakan untuk kampanye program Keluarga Berencana (KB) di Yogyakarta. “Ini (Ki dan Nyi Brayut, red.) menggambarkan adanya keluarga besar. Brayut dari kata brayat , berarti keturunan. Orang zaman dulu berpikir setiap anak sudah ada yang mengatur rezekinya masing-masing. Beda dengan sekarang, sudah takut duluan tidak bisa menghidupi,” terang Sumardi, kepala satuan pelayanan Museum Wayang, kepada Historia . R. Bima S. Rahardja, dosen Sastra Nusantara Universitas Gadjah Mada menjelaskan bahwa penggunaan wayang brayut untuk kampanye program KB bertujuan memberikan gambaran pada masyarakat akan repotnya memiliki banyak anak. “Wayang Brayut digunakan untuk menggambarkan kerepotan memiliki banyak anak. Nah, kemungkinan ini yang ditangkap Pak Harto pada saat itu untuk sosialisasi program KB. Dulu Pak Harto senang sekali dengan wayang,” jelas Bima kepada Historia . Menurut Bima, pemilihan wayang sebagai media kampanye karena pada tahun 1970-an belum banyak hiburan yang dapat dinikmati rakyat. Wayang merupakan hiburan yang paling digemari banyak orang. “Akses hiburan belum begitu banyak kecuali seni tradisional, salah satunya wayang. Wayang menjadi tontonan nomor satu di Jawa pada saat itu sehingga menjadi alat yang efektif untuk mensugesti masyarakat,” terang Bima. Wayang Brayut sudah muncul jauh sebelum program KB dicanangkan. Mulanya, wayang ini muncul di Surakarta pada masa Pakubuwana IV yang memerintah sejak 1788 hingga 1820. “Wayang Brayut kemungkinan sampai ke Yogyakarta pada masa Hamengkubuwono V (memerintah sejak 1823-1826 dan 1828-1855, red.). Kalau dilihat dari busana wayangnya, mereka adalah rakyat biasa. Selain tokoh Ki dan Nyi Brayut, ada pula gambaran anak-anak mereka , ” kata Bima. Menurut Sumardi, Ki dan Nyi Brayut bukan tokoh baku dalam cerita pewayangan. Tokoh-tokoh ini muncul sebagai sisipan dalam pertunjukan wayang. Mendukung pernyataan Sumardi, Bima memberikan gambaran mengenai kemunculan tokoh Brayut dalam cerita pewayangan. Dalam salah satu adegan di cerita Mahabharata, ketika pasukan kerajaan sedang berjalan, mereka melihat anak-anak Ki dan Nyi Brayut. Salah seorang anggota pasukan yang melihat kemudian merasa keheranan dengan jumlah anak yang sangat banyak. Dengan digunakannya wayang Brayut sebagai media kampanye, kemudian muncul cerita-cerita yang khusus untuk tujuan sosialisasi KB. “Wayang Brayut merupakan wayang suluh, yakni wayang sebagai media penerangan kepada masyarakat. Wayang itu media dakwah yang sangat luwes. Sehingga digunakan sebagai sarana penyuluhan tentang KB di era Soeharto,” tutup Sumardi.

  • Razia Celana Jengki Pakai Botol Bir

    Pada suatu hari di Jakarta tahun 1960-an, terlihat keramaian di depan gedung bioskop. Rupanya, polisi sedang melakukan razia celana jengki. Polisi hanya bermodal gunting dan botol bir. Satu per satu anak muda bercelana jengki diperiksa. Kaki diangkat, leher botol dimasukkan pada ujung celana di pergelangan kaki. Bila leher botol bir gagal masuk, siap-siap saja berhadapan dengan gunting. “Celana jengki yang terbukti tidak bisa dimasuki botol langsung digunting melintang di lutut atau paha," kata Achmad Sunjayadi, sejarawan Universitas Indonesia. Korban razia tentu saja hanya bisa pasrah dan pulang menanggung malu. Celana jengki kesayangan sudah berubah serupa kolor. Menurut Firman Lubis dalam Jakarta 1950-an, razia tidak hanya dilakukan di bioskop, tetapi juga di jalanan. Guru-guru di sekolah pun turut melakukan penertiban. Razia di Jakarta dinamai Operasi Hapus dan dilakukan oleh Angkatan Kepolisian VII/Jaya dan Corps Polisi Militer (CPM). Selain di Jakarta, razia juga dilakukan di kota-kota lain. Tidak hanya celana jengki, blue jeans pun dirazia. Bahkan tidak perlu mengukur dengan botol, langsung digunting. Celana jengki merupakan celana ketat yang populer di era 1960-an. Jengki berasal dari kata yankee yang berarti “orang Amerika.” Kepopuleran celana jengki dibawa oleh grup musik The Beatles. Grup musik asal Inggris ini digandrungi oleh anak-anak muda di berbagai kota di Indonesia. Maka, tak heran bila mereka meniru gaya berpakaian The Beatles. Achmad menjelaskan bahwa pelarangan celana jengki berbarengan dengan pelarangan musik rock and roll , gaya rambut ala The Beatles, dan dansa-dansi. “Ini berkaitan dengan kebijakan Sukarno. Pada pidatonya tentang Manipol-Usdek tanggal 17 Agustus 1959, Sukarno mengecam musik rock and roll , dansa-dansi, dan musik ngak ngik ngok,” kata Achmad. Manipol-Usdek merupakan singkatan dari Manifestasi Politik, UUD 1945, Sosialisme Indonesia, Demokrasi Terpimpin, Ekonomi Terpimpin, dan Kepribadian Indonesia. Dalam tulisannya, “Ngak Ngik Ngok” di Jurnalisme Sastrawi, Budi Setiyono mencatat bahwa pemerintah kemudian mengeluarkan Penetapan Presiden No. 11/1963 tentang Pemberantasan Kegiatan Subversi. Peraturan ini digunakan untuk melarang musik ngak ngik ngok beserta gaya berpakaiannya. Populernya The Beatles ditentang pemerintah karena di saat yang bersamaan pemerintah sedang berupaya memajukan kebudayaan nasional. Upaya tersebut didukung oleh Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Pada sidang pleno Lekra tanggal 23-26 Februari 1964 dibahas mengenai upaya menangkis “kebudayaan imperialisme Amerika Serikat” juga usaha untuk membangun kebudayaan nasional.

  • Gerak Laju Sejarah Roda

    Kebutuhan akan moda transportasi dan pengangkutan yang lebih efisien membawa manusia pada penciptaan roda.

  • 350 Tahun Pertukaran Pulau Run dengan Manhattan

    HARI ini, 31 Juli 2017, tepat 350 tahun Treaty of Breda, yaitu perjanjian antara Inggris dan Belanda di Kastil Breda pasca Perang Anglo Dutch II (Perang Inggris-Belanda II) pada 1665-1667. Dalam perjanjian damai ini, Inggris menukarkan Pulau Run di Kepulauan Banda yang kaya akan pala dan cengkeh dengan Pulau Nieuw Amsterdam, kelak dikenal dengan Pulau Manhattan, yang diduduki Belanda. Pusatnya sekarang menjadi New York City, pusat keuangan dan perdagangan dunia dan dijuluki The Big Apple. “Kekalahan Inggris dalam perang itu menghadirkan tekanan tersendiri dalam negosiasi di Breda. Mereka sebelumnya ingin lebih menukar perkebunan gula di Suriname. Namun pada akhirnya, Pulau Run yang ditukar dengan Manhattan (Nieuw Nederland) beserta Nieuw Amsterdam-nya (kini Kota New York),” ujar sejarawan Wim Manuhuttu dalam seminar “Banda : Heritage of Indonesia” di Erasmus Huis, Jakarta Selatan, Senin (31/7/2017). Peringatan 3,5 abad Treaty of Breda tidak hanya di Tanah Air, tapi juga di New York. Konsulat Jenderal Republik Indonesia New York menggelar acara pameran untuk promosi film, kopi, hingga pariwisata Banda dengan tajuk “Indonesia sebagai Kepulauan Penghasil Rempah-Rempah Dunia” yang rangkaian acaranya dimulai dari April hingga Agustus 2017. Sejarawan Bonnie Triyana mengatakan bahwa bicara Banda berarti juga bicara kolonialisme. “Kita tidak mengenang kolonialisme. Tapi lebih kepada adanya Treaty of Breda yang punya kaitan lebih global dalam hal kolonialisme,” ujar Bonnie. Dalam sejarah Indonesia, Kepulauan Banda punya arti tersendiri sebagai tempat pembuangan para tokoh bangsa oleh pemerintah kolonial Belanda. “Banda dalam sejarah Indonesia jadi tempat pembuangan para bapak negara. Seperti Hatta, Sjahrir, Iwa Kusuma dll. Sementara Run tak bisa dibandingkan dengan Manhattan kecuali kita punya imaginative connection. Setiap kali kita hubungkan, seperti kita membayangkan perjalanan dengan economy class dan first class ,” kata penulis Ayu Utami. Pendapat berbeda dikemukakan Tanya Alwi, aktivis konservasi bahari asal Banda. Menurutnya, meski sekarang Manhattan dengan New York-nya jadi pusat finansial dunia, bukan berarti Kepulauan Banda tak memiliki apapun selain komoditas pala. “Mungkin sekarang New York boleh jadi sentra finansial dunia. Tapi sekarang Banda adalah centre of marine biodiversity (sentra keanekaragaman hayati laut). Sebenarnya momen ini momen yang spesial. Banda punya heritage (warisan) yang indah, punya keanekaragaman hayati yang indah dan aset ini yang harus kita jaga agar tetap utuh,” kata Tanya Alwi. Sepakat dengan Tanya Alwi, Wim Manuhuttu berharap segenap elemen bangsa juga bisa mengambil manfaat dari momentum 350 tahun Treaty of Breda dan kaitannya dengan Banda. Momentum agar tidak hanya mempromosikan wisata bahari, tapi juga warisan-warisan sejarahnya. “Sekarang masih banyak tempat-tempat bersejarah yang jadi warisan penting di Run. Begitu juga di Banda. Di Banda saja, masih ada sekitar 15 benteng sisa-sisa masa kolonial yang menujukkan betapa pentingnya Banda. Penting untuk menopang ketertarikan dunia pada Banda karena keunikan sejarahnya ini, agar bisa dinikmati para wisatawan. Tidak hanya wisata bahari, tapi juga heritage -nya,” tandas Wim.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bottom of page