top of page

Hasil pencarian

9739 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Keris Menteri Pertahanan

    MENTERI Pertahanan Prabowo Subianto mengadakan pertemuan empat mata dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron di Istana Élysée, Paris, Prancis, Selasa (15/3/2022). Mereka membahas kerja sama pertahanan Indonesia dan Prancis, yaitu mengenai pembelian pesawat jet Rafale dan kapal selam Scorpene yang telah disepakati pada 10 Februari 2022. Di pengujung pertemuan, Prabowo menyerahkan cendera mata berupa keris Bali kepada Macron. Prabowo kerap memberikan keris Bali sebagai cendera mata kepada para pejabat negara lain. Sebelumnya, Prabowo memberikan keris Bali kepada Menteri Pertahanan Inggris Ben Wallace di London, Selasa (23/3/2021). Dia juga memberikan keris Bali kepada Menteri Pertahanan Amerika Serikat Lloyd James Austin di Bahrain, Sabtu (20/11/2021).

  • ITB Rayakan Seabad TH Bandung

    PERANG Dunia I menghalangi orang Hindia Belanda melanjutkan pendidikan tinggi ke Belanda, khususnya ke Technische Hogeschool (TH) Delft. Namun, perang juga telah mengubah pandangan orang Belanda, yang semula berpendapat bahwa Hindia Belanda belum siap memiliki perguruan tinggi. Bahkan, pada 30 Mei 1917 beberapa orang terkemuka d ar i kalangan perbankan, perdagangan, dan perusahaan, mengadakan pertemuan di gedung Nederlandse Handelsmaatschappij di Amsterdam , untuk mendirikan Koninklijk Instituut voor Hoger Onderwijs in Nederlands Indie (Institut Kerajaan untuk Pendidikan Tinggi di Hindia Belanda) . Sebagai pelaksana program, dibentuk Raad van Beheer (Dewan Pengurus) yang diketuai oleh Dr. C.J.K. van Aalst, kemudian diganti oleh J.W. Ijzerman. Dia memiliki pengalaman dalam perkeretaapian di Jawa dan Sumatra, serta pengetahuan yang luas tentang masyarakat Hindia Belanda, termasuk sejarah kuno Jawa dan Sumatra.

  • Westerling Terkulai Dirudal Jerman

    JAUH sebelum rudal ditembakkan pihak-pihak yang terlibat dalam perang di Teluk Persia sekarang, Jerman telah melakukannya waktu Perang Dunia II. Teknologi perang Jerman vital dalam memperkuat armada perang Adolf Hitler (1889-1945) menghadapi negara-negara Sekutu yang menjadi lawannya. Termasuk ketika Jerman telah melemah pada tahun-tahun terakhir perang.   Di fase akhir perang, sebuah teknologi dipersiapkan Jerman. Ia adalah peluru kendali –lebih tepatnya roket dan sering disebut bom terbang– bernama Fieseler Fi 103, dikenal sebagai V-1 yang kemungkinan singkatan dari Vergeltungswaffe 1. Orang Jerman mengartikan Vergeltungswaffe 1  sebagai senjata balas dendam.   Senjata dengan 1.870 pon bahan peledak ini, disebut Jean-Denis G.G. Lepage dalam An Illustrated Dictionary of the Third Reich, dikembangkan sejak Juni 1942 dan diproduksi massal Maret 1944. Dari sekitar 35.000 buah yang diproduksi, 9.251 buah ditembakkan ke Inggris dan 6.551 ditembakkan ke Antwerp, Belgia.   Jackie Rosenthal dan Raymond Paul Pierre Westerling –yang kelak membantai ribuan rakyat Indonesia sehingga dijuluki “Sang Jagal”– berada di Antwerp ketika ratusan atau ribuan V-1 menghajar Antwerp. Dalam memoarnya, Mijn Memoires , Westerling menyebut pasukan komando Belanda dari Inggris itu, termpat Westerling berada, diterjunkan tidak jauh dari tempat peluncuran rudal-rudal V-1. Militer Jerman menempatkannya ke Belanda bulan-bulan terakhir tahun 1944 agar bisa menembaki Inggris dengan rudal tersebut.   Dekatnya markas Westerling dengan tempat peluncuran V-1 membuatnya sering melihat V-1 diluncurkan. Ia bahkan sempat menikmati tontonan lalu lintas rudal Jerman itu di langit sebelum memakan korban.   Sementara Westerling belum sibuk di Antwerp, di Belanda pasukan Sekutu melancarkan Operasi Market Garden dengan menerjunkan pasukan khusus dari Inggris. Mereka berusaha untuk menembaki rudal itu di tempat peluncurannya, namun selalu ada rudal yang lolos. Salah satu rudal itu kemudian jatuh beberapa meter dari Jackie dan Westerling sewaktu keduanya sedang berjalan kaki.   “Mereka terjatuh ke tanah dan pingsan untuk beberapa waktu sebelum Raymond mulai sadar. Ia menyadari, meskipun perlahan, bahwa sebenarnya ia tidak terluka sama sekali. Lalu ia melihat sekeliling dan melihat Jackie,” catat Rudy Albert Blatt dalam To Live  You Fight: A War Diary .   Jackie terlihat oleh Westerling menderita luka parah terkena ledakan V-1. Hanya beberapa kata diucapkan Jackie sebelum meregang nyawa dalam pelukan Westerling.   Westerling sendiri kemudian dievakuasi dan dibawa ke Inggris untuk mendapatkan perawatan. Dirinya ditempatkan dalam sebuah kamar hingga tubuhnya kurus dan pucat.    “Butuh tiga minggu sebelum saya bisa melihat lagi dan lima bulan sebelum bisa pulih untuk kembali bertugas,” aku Westerling dalam Mijn Memoires .   Rudy Blatt sempat menemui Westerling. Yang ditemui tampak hilang keceriaan pasca-kejadian mengerikan itu. Westerling bahkan bicara layaknya orang tua yang sedang sekarat soal apa yang dialaminya bersama Jackie. Westerling nyaris buta oleh V-1 Jerman tadi. Sulit bagi Westerling untuk melupakan kejadian mengerikan itu.   Namun bukannya memperlihatkan simpatinya, Rudy malah kecewa pada Westerling yang dianggapnya tampak lemah seperti orang gangguan mental. Westerling bahkan sempat dihinanya. Rudy bilang Westerling itu pengecut dan tak lebih baik daripada perempuan-perempuan yang membantu tentara yang juga menghadapi bahaya perang.   “Wajah Ray memucat karena marah. Aku menantangnya untuk bangun dari tempat tidurnya yang sialan itu, berhenti bertingkah seperti anak kecil, berpakaian, dan jalan-jalan bersamaku,” kenang Rudy.   Merasa kehormatannya diinjak-injak, Westerling langsung mengumpat dan bangkit dari tempat tidurnya lalu berpakaian. Pancingan kasar Rudy pun dimakan Westerling yang mendadak sembuh.   “Setengah jam kemudian kami duduk di sebuah bar sambil minum-minum. Ketika 15 menit kemudian dia meninggalkanku untuk mengikuti seorang wanita pirang yang cantik, aku tahu semut kecilku telah berhasil,” kata Rudy melihat Westerling telah berangsur pulih dari “kemanjaannya”.

  • Belanda Mengawasi Indonesia dari Australia

    DI LANTAI 10 gedung Temple Court building, Collins Street, Melbourne, Australia, para petinggi pemerintahan Hindia Belanda acap kali berkumpul. Mereka adalah pejabat kolonial pimpinan Hubertus van Mook yang melarikan diri dengan dua pesawat Dakota dari Bandung menuju negara sekutunya, Australia. Di sana, dibentuk jawatan penerangan untuk terus memantau kondisi Hindia Belanda: NIGIS (Netherlands Indies Goverenment Information Service). “Kegiatan ini merupakan kegiatan dinas rahasia sipil dan organisasi propaganda pemerintah Hindia Belanda di pengasingan yang berbasis di Australia, selepas jatuhnya Hindia Belanda ke tangan balatentara Jepang,” tutur sejarawan Rushdy Hoesein dalam ekspose “Arsip Foto Netherlands Indies Government Information Service (NIGIS) di Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), Jakarta Selatan, 28 November 2016.

  • Ada Oknum Polisi dalam Pembunuhan Berencana Marhaenis

    DUA bulan sudah kasus pembunuhan Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat alias Brigadir J bergulir dengan aneka drama dan rumor motif yang menyertainya. Namun, ada titik terang-titik terang yang perlahan membuka tabir misteri kasus. Salah satu yang terpenting, eks-Kepala Divisi Profesi dan Pengalamanan (Kadiv Propam) Polri Irjen Ferdi Sambo dijadikan tersangka pembunuhannya. Rekonstruksi kejadian sudah dilakukan tim penyidik Polri di dua tempat kejadian perkara (TKP), yakni di Jalan Saguling III, Jakarta Selatan (kediaman pribadi Sambo) dan Komplek Polri Duren Tiga (rumah dinas Sambo) pada 30 Agustus 2022. Total ada 78 adegan yang diperagakan di dua TKP untuk menyibak apa dan bagaimana peran Sambo dan para tersangka lain: Bharada E (Richard Eliezer), Bripka RR (Ricky Rizal), KM (Kuat Ma’ruf), dan Putri Candrawathi (istri Sambo). Kendati masih terdapat perbedaan pandangan dan keterangan antar-tersangka, rekonstruksi itu setidaknya membuktikan pembunuhan berencana Brigadir J untuk kemudian dijadikan catatan tim penyidik sebelum diserahkan ke kejaksaan. Tersangka Ferdy Sambo dan istrinya, Putri Candrawathi, sama-sama dijerat pasal 340 subsider pasal 380 juncto  pasal 55 juncto  pasal 56 KUHP.

  • Riwayat Penghulu dari Masa Lalu

    KERINGAT dingin membasahi tubuh Dedi Slamet Riyadi, 38 tahun. Setelah menuruni bukit, melalui tegalan sawah, dan menerabas sungai dengan sepeda motornya, dia tiba di tempat perhelatan: sebuah masjid kampung di Kuningan, Jawa Barat. Begitu masuk masjid, wajah dan berkas pernikahan yang dia jinjing sama-sama kusut. Tapi toh dia mesti menuntaskan pekerjaannya: menghadiri dan mencatat pernikahan.   Sebagai penghulu, Dedi terbiasa menyantap medan seperti itu. Selama masih masuk wilayahnya, kapan pun dia mesti siap jika dibutuhkan masyarakat. “Pernah juga hari raya,” katanya. Tentu saja tugas penghulu bukan hanya menghadiri dan mencatat pernikahan. Sebagai pegawai negeri sipil, dia punya tugas lainnya. Dari perencanaan kegiatan hingga pengembangan kepenghuluan. Dari pengawasan pencatatan nikah/rujuk hingga pembinaan keluarga sakinah. Namun, meski tampak segambreng, sebenarnya tugas penghulu masa kini hanya berkutat di hukum keluarga dan pernikahan. Kedudukannya pun di kecamatan.

  • Mata-mata Mengawasi Bung Hatta

    MOHAMMAD HATTA pulang kampung ke Sumatra Barat pada Oktober 1923. Selain menemui keluarga, dia juga berencana menulis dasar gerakan Partai Pendidikan Nasional Indonesia (PNI-Pendidikan atau PNI-Baru) yang berjudul Ke Arah Indonesia Merdeka. Setelah menyelesaikan brosur itu, dia mengunjungi beberapa cabang PNI di Sumatra Barat, yaitu cabang Bukittinggi, Padang Panjang, dan Padang. Di setiap cabang, dia memberikan pandangan tentang organisasi PNI. Di Padang, Bung Hatta menginap di rumah tokoh yang berpengaruh dalam hidupnya, yaitu Engku Taher Marah Sutan, seorang agen pelayaran di pelabuhan Padang. Dia berkenalan dan berhubungan dengan Marah Sutan ketika dia duduk di kelas dua MULO. Saat itu, Marah Sutan menjadi sekretaris Sarikat Usaha, organisasi yang didirikan oleh para saudagar pribumi pada 1914 untuk melindungi saudagar-saudagar pribumi dari dominasi pedagang Belanda dan Tionghoa. Berkat dia, Sarikat Usaha menjadi pusat pertemuan kaum cerdik pandai di Padang. Dia memimpin Sarikat Usaha hingga tahun 1940.

  • Mengawasi Kaum Pergerakan

    SELESAI berpidato, Sukarno bergegas. Seorang Belanda gemuk, agen Politiek Inlichtingen Dienst (PID) atau Dinas Intelijen Politik, mengikutinya dengan sepeda. Sadar diikuti, Sukarno tetap tenang dan justru berpikir untuk mengerjainya. Dia sengaja melewati kubangan sawah sehingga agen itu harus menenteng sepedanya. Sukarno gembira melihat itu. ”Padahal PID, dinas intelijen yang didirikan pada Mei 1916, nama yang menakutkan bagi banyak kaum pergerakan,” kata Bondan Kanumoyoso, sejarawan Universitas Indonesia, dalam diskusi buku Memata-Matai Kaum Pergerakan, Dinas Intelijen Politik Hindia Belanda 1916-1934 karya wartawan majalah Historia  Allan Akbar, di Universitas Indonesia (11/4/13). Buku ini mengungkap aktivitas intelijen masa kolonial, termasuk keberhasilan dan kegagalannya.

  • Gunung Anak Krakatau dan Tsunami Selat Sunda

    PADA suatu sore, 29 Juni 1927, hampir 44 tahun berlalu dari letusan dahsyat induknya, Gunung Krakatau. Nelayan yang tengah menarik jaring setelah seharian mengayuh perahu, menyaksikan sesuatu yang luar biasa dan tidak terduga. Dengan bergemuruh, gelombang-gelombang gas yang sangat besar mendadak menyembul ke permukaan laut. Gelembung-gelembung itu dengan kombinasi yang aneh dan acak, muncul di mana-mana, mengelilingi perahu. Nelayan itu kebingungan dan ketakutan. Gelembung-gelembung itu meledak, menyemburkan abu dan gas belerang yang berbau busuk.

  • Melipat Laba di Pelayaran Kedua

    IKHTIAR armada dagang pertama Belanda, dari perusahaan Compagnie van Verre, menemukan jalur ke Nusantara memang berat. Mereka harus kehilangan hampir tiga perempat awaknya dan satu kapal terbakar. Pada 14 Agustus 1597, tiga kapal, yaitu Mauritius , Hollandia dan Duyfken , kembali dengan 87 orang selamat dari 240 awak. Karena kebocoran dan kurangnya awak, kapal Amsterdam ditinggalkan dan dibakar di Bawean. Cornelis de Houtman, pemimpin armada, kembali ke Belanda dengan membawa 240 kantong lada, 45 ton pala, serta 30 bal bunga pala, yang sebagian diperoleh dari hasil rampasan.

  • Pemodal Pelayaran Pertama Belanda

    TAHUN 1594, awal musim semi. Sejumlah saudagar besar berkumpul di rumah Martin Spil, seorang pedagang anggur, di Warmoesstrat, Amsterdam, Belanda. Mereka mengumpulkan dana untuk membiayai pelayaran pertama ke negeri asal rempah di Asia. Menurut Jonathan I. Israel dalam Dutch Primacy in World Trade, 1585-1740, kelompok pedagang besar tersebut dapat mengumpulkan modal sebesar 290 ribu gulden. Dengan uang sebesar itu dapat membeli 60-70 rumah besar di kota Amsterdam.

bottom of page