top of page

Surat John Lie kepada istri

Dari Surabaya ke Jakarta


TAHUN baru 1958 sudah tiga minggu berlalu. John Lie, saat itu berpangkat Letnan Kolonel Laut, sedang berada di Surabaya. Satu sore, sekira pukul 16:20, ia mengambil secarik kertas dan menulis surat kepada istrinya, Margareth Angkuw, yang ada di Jakarta.


"My dearest Margarethtje, HERDER telah trima lagi banjak kerst kaarten een mooie van Major Wagiman en Kapten Sam en Sutjipto van Italia. Major Wagiman dekt ziels veel aan zijn gedin te begruijpen plus nog keadaan didalam negeri," tulis John Lie kepada istrinya dalam surat yang bertitimangsa 20 Januari 1958. Rupanya, ketika di Surabaya, ia mendapat kartu Natal dari beberapa rekannya di luar negeri.


John yang berkecimpung di angkatan laut, membuatnya sering berjauhan dari sang istri. Dan lewat surat-menyurat, selain melalui telepon mungkin, komunikasi itu tetap terjaga.


Situasi nasional tahun 1958 cukup hangat. Pada akhir 1956, di Sumatera berdiri Dewan Banteng pimpinan Ahmad Husein; Dewan Gajah pimpinan Maludin Simbolon; dan Dewan Garuda pimpinan Barlian. Sementara di Sulawesi Utara, Ventje Sumual mengumumkan piagam Perjuangan Semesta (Permesta) pada 2 Maret 1957 yang memberlakukan pemerintahan militer di daerah itu. Kelak, gerakan oposisi ini membentuk Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI).


Melihat kondisi demikian, setiap pimpinan pasukan dalam kondisi siaga, tak terkecuali John Lie. Karir John dalam dunia kemiliteran, terbilang moncer. Setelah kemerdekaan, ia terlibat dalam usaha-usaha mempertahankan kemerdekaan RI dari rongrongan Belanda yang ingin kembali ke Indonesia. Ia terkenal sebagai komandan armada laut yang ulung. Jago menerobos blokade musuh untuk menyelundupkan senjata dari luar negeri untuk pasukan RI. Sebagai garda republik, kemampuannya semakin teruji dengan berandil dalam penumpasan pemberontak Republik Maluku Selatan (RMS) dan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII). Dan sejak 1957, John Lie dipercaya memimpin kapal perang ALRI jenis perusak eks. kapal Belanda: Hr. Ms. Tjerk Hiddes. Kapal tersebut kemudian diberi nama RI Gajah Mada.


Pun demikian, meski dikenal garang di palagan lautan, John Lie dikenal sebagai sosok yang religius. Roy Rowan, wartawan majalah Life, mengabadikan kisah perjuangan heroik John Lie dalam “Guns–And Bibbles–Are Smuggled to Indonesia”, yang dimuat majalah LIFE pada 26 Oktober 1949. Dan pers asing menjuluki John Lie “The Great Smuggler with the Bibble”.


Dalam surat pribadi tersebut, kepada Margaret, ia mengutip salah satu isi dalam Alkitab yaitu bagian 2 Timotius II/19.


"Akan tetapi asas Allah jang teguh itu berdiri tetap dan bermeterai ini: Bahwa Tuhan mengenal orang2 miliknya dan lagi barangsiapa jang menjebut nama Tuhan hendaklah ia mendjauhkan dirinya daripada kedjahatan," tulisnya.*

Terjemahan:

bottom of page