Diperbarui: 29 Jul
KESUKSESAN Pangkalan Udara Panasan (kini Lanud Adi Soemarmo), Solo mendapatkan bantuan pesawat dari Lanud Bugis (kini Lanud Abdulrahman Saleh) pada 5 Maret 1946 membuat beberapa teknisi Tentara Republik Indonesia Djawatan Udara (kini TNI AU) berharap hal serupa. Salah satunya Opsir Muda Udara II (OMU II, setara letnan dua) Hardjono dari Lanud Maospati (kini Lanud Iswahjudi).
“Pada 5 Maret 1946 sebuah pesawat Cukiu (pesawat latih Tachikawa Ki-55, red.) diterbangkan dari Pangkalan Udara Bugis Malang ke Panasan Solo. Adapun pesawat yang diberikan sudah diberi nomor registrasi TK-007 dalam keadaan siap terbang,” tulis Haril M. Andersen dalam Sang Elang: Serangkai Kisah Perjuangan H. AS. Hanandjoeddin di Kancah Revolusi Kemerdekaan RI.
Timbulnya harapan itu bukan tanpa alasan. Sebab, Lanud Bugis –saat itu masih di bawah Divisi Untung Surapati (TRI Darat)– memiliki lebih banyak pesawat bekas Jepang ketimbang beberapa lanud lain. Beberapa di antaranya mampu diperbaiki dan sudah diberi roundel Merah Putih oleh satuan teknisi pimpinan Lettu Hanandjoeddin sehingga siap terbang.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.












