top of page

Melarikan Pesawat dari Malang ke Yogya

Kisah nekat Lettu Hanandjoeddin melarikan pesawat “Pangeran Diponegoro-II” dari Malang ke Yogya. Berujung hukuman bui.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Pesawat pembom ringan Kawasaki Ki-48 “Sokei” Type 99 (Aircam Aviation Series No. 32)

12 Apr 2021
7 menit membaca

Diperbarui: 24 Jul

MALANG, Jawa Timur, 19 Maret 1946 siang. Ketika tengah sibuk memperbaiki beberapa pesawat di Hangar I Pangkalan Udara (Lanud) Bugis, Lettu Hanandjoeddin, akrab disapa Anan, dan anak buahnya kedatangan tamu dari Yogya. Tamu itu Letkol Umar Slamet, mantan Ketua Badan Keamanan Rakyat (BKR) Yogya yang kemudian jadi salah satu pimpinan TRI Divisi IX Yogya merangkap anggota Komite Nasional Indonesia Daerah (KNID) Yogya. Umar datang didampingi Imam Soepeno.


Menurut Haril M. Andersen dalam Sang Elang: Serangkai Kisah Perjuangan H. AS. Hanandjoeddin di Kancah Revolusi Kemerdekaan RI, agenda kunjungan Umar adalah mencari pesawat yang bisa terbang jarak jauh menuju Australia untuk keperluan pengiriman delegasi diplomasi RI ke Australia. Umar berharap bisa mendapatkan pesawat yang dapat mengangkut penumpang sampai tujuh orang.


Namun, harapan Umar belum tentu dapat terwujud. Kendati Umar memiliki posisi penting dan kedatangannya untuk kepentingan perjuangan, kala itu Lanud Bugis masih di bawah kekuasaan Divisi VIII/Untung Suropati pimpinan Jenderal Mayor Imam Soedja’i dan berdiri independen alias terpisah dari pusat.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
transparant.png
bottom of page