- 25 Feb 2023
- 7 menit membaca
Diperbarui: 22 Apr
MAGRIB, 24 Maret 1946, terdengar ledakan dinamit sebagai tanda pembumihangusan. Bandung memerah. Komandan Resimen VIII TRI dan pelindung Laswi, Omon Abdulrachman, memerintahkan agar Laswi segera mundur sampai melewati jembatan Dayeuh Kolot, sebelum jembatan dihancurkan. Pukul 22.00, semua anggota Laswi melewati Dayeuh Kolot dan lalu langsung menuju Ciparay.
Di bawah MP3, Laswi mendapat tugas menangani dapur perjuangan di seluruh sektor Bandung. Anggota Laswi mulai disebar ke setiap kesatuan untuk melaksanakan tugas dapur umum dan palang merah. Pusat dapur umum tetap berada di Ciparay untuk mengurus para pejuang di garis depan Dayeuh Kolot. Empat brigade Laswi diperbantukan ke dalam Batalyon I sampai Batalyon V.
“Saya diperbantukan di daerah Sapan di bawah Batalyon III yang dipimpin Ahmad Wiranatakusumah. Tahunya di Sapan banyak teman waktu SMP,” ujar Euis Sari’ah alias Saartje menyebut nama anak bupati Bandung Wiranatakusumah V, yang kemudian jadi kepala staf Kostrad dan wakil panglima II Komando Siaga Ganyang Malaysia.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.















