top of page

Cerita di Balik Rekor MURI untuk Historia

Majalah Historia mendapat penghargaan dari Museum Rekor Dunia-Indonesia (MURI) sebagai majalah sejarah populer pertama.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Jaya Suprana (tengah), ketua umum MURI, diapit awak redaksi majalah Historia setelah menyerahkan piagam penghargaan MURI untuk majalah Historia sebagai majalah sejarah populer pertama, di museum MURI Mall of Indonesia, Kelapa Gading, Jakarta Utara, 8 Agustus 2014. Foto: Wisnu.

11 Agu 2014
2 menit membaca

Diperbarui: 8 Apr

PIAGAM penghargaan yang diserahkan oleh Ketua Umum MURI, Jaya Suprana diterima oleh Pemimpin Redaksi majalah Historia, Bonnie Triyana di museum MURI, Kelapa Gading, Jakarta Utara, 8 Agustus 2014.


“Ini merupakan apresiasi terhadap upaya kami menghadirkan kisah sejarah seberimbang mungkin. Selama ini sejarah di Indonesia banyak direkayasa demi kepentingan kekuasaan. Kami berupaya mengembalikan hal itu menjadi milik publik kembali,” kata Bonnie.


Acara tersebut memang tak khusus untuk Historia, kendati saat itu cuma Historia yang menerima penghargaan. Dalam acara itu hadir perwakilan dari kedutaaan besar Georgia, Ukraina, Polandia, dan Amerika Serikat. Georgia sedang merayakan hari kemerdekaannya. Setelah menyaksikan beberapa pentas kesenian, penghargaan diberikan di pengujung acara. Ada beberapa tokoh pers hadir, antara lain Ninok Leksono dari Kompas dan Paul Himawan dari Sinar Harapan.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Dibuang ke Belanda tak menghentikan pergerakan Semaoen. Bekerjasama dengan kelompok sosialis dan komunis serta para pelaut Indonesia. Namun, keputusan membuat kesepakatan dengan Perhimpunan Indonesia mengakibatkan pemecatan.
bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
transparant.png
bottom of page