top of page

Cilegon 127 Tahun Setelah Geger

Cerita tentang Kota Cilegon di pesisir utara Banten. Masyarakat agraris yang tumbuh di antara geliat industri.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Rumah Asisten Residen Johan Hendrik Hubert Gubbels (sekarang menjadi rumah dinas Walikota Cilegon). (Bonnie Triyana/Historia.ID).

18 Jun 2025
4 menit membaca

Diperbarui: 9 Jul

LIMA orang polisi pamong praja menyambut kami di depan rumah dinas wali kota Cilegon, Rabu dua pekan lalu. Satu di antaranya, bertubuh tambun dengan pakaian seragam ketat, membuat kancing-kancingnya hampir copot, melayani pertanyaan kami dengan baik hati. Tak semua tahu sejarah, tapi mereka semua bisa menjawab secara meyakinkan kalau rumah dinas pejabat tertinggi di kotanya itu adalah bangunan dari zaman Belanda.


“Iya ini asli bangunan Belanda. Dulu rumahnya asisten residen, di sebelah sana kantornya,” ujar polisi pamong praja itu, sebut saja Samin, menunjuk ke sebelah kiri rumah dinas walikota.


Rumah dinas bersejarah itu tampak sedang diperbaiki. Aroma cat terpapar menyengat hidung. Di beberapa sudut, tukang-tukang tekun mengerjakan tugasnya: memperbaiki atap, merapikan letak genteng, mengecat tembok, dan membersihkan beberapa bagian ruangan.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Di usianya yang masih muda, Semaoen memimpin dan menggerakkan serikat buruh. Dia memperjuangkan pekerja tertindas dengan melancarkan pemogokan, sampai diusir pemerintah kolonial.
bg-gray.jpg
Beranjak remaja di tengah berseminya pergerakan, Semaoen “dibentuk” Sneevliet guna merintis jalan revolusioner.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah suffered a series of losses during her life. She lost four of her loved ones in a very short time.
bg-gray.jpg
Sebagai pegawai kereta api, masa depan Semaoen terjamin. Namun, dia memilih terjun ke pergerakan karena melihat ketidakadilan yang dialami rakyat jajahan.
transparant.png
bottom of page