Diperbarui: 14 Agu
SURAT Izin Mengemudi (SIM) merupakan dokumen penting yang harus dimiliki pengemudi kendaraan. Tak berbeda dengan masa kini, SIM di zaman kolonial Belanda yang disebut rijbewijs bisa didapatkan pengemudi dengan mengikuti serangkaian tes, salah satunya ujian berkendara di jalan umum. Saat menjalani tes ini pengemudi didampingi seorang inspektur polisi yang akan menilai kemampuan mereka selama berkendara.
Menurut G.H. von Faber dalam Oud Seorabaia, melalui tes berkendara ini pihak berwenang akan menilai kemampuan pengendara. Biasanya peserta akan diminta mengemudikan kendaraannya melewati sejumlah jalan. Lalu, mereka diuji untuk bermanuver di antara barisan bendera, menggerakan mobil maju dan mundur, hingga berbelok. Bagi banyak orang, ujian berkendara ini menjadi tes yang paling sulit dalam rangkaian ujian mendapatkan SIM.
Dalam beberapa kasus, alih-alih lolos ujian berkendara, sejumlah peserta justru mengalami kecelakaan. Seperti pengalaman seorang peserta ujian SIM yang diberitakan Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië, 13 Juli 1909. Dikisahkan, Tuan B dari Magelang pergi ke kantor polisi di Surabaya untuk mengajukan permohonan SIM bagi sopirnya seorang penduduk lokal.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















