top of page

Mula Sekolah Mengemudi di Zaman Kolonial Belanda

Pembukaan sekolah mengemudi didorong oleh meningkatnya permintaan akan pengemudi mobil di Hindia Belanda. Selain pelatihan mengemudi, para peserta juga belajar mengenai perawatan dan perbaikan kendaraan.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Pria Eropa di samping mobil yang dikemudikan sopir di Jawa pada tahun 1930-an. (KITLV).

30 Jul 2024
4 menit membaca

Diperbarui: 29 Jul

PADA awal abad ke-20, seiring banyaknya kendaraan di Hindia Belanda, upaya menyusun peraturan mengenai tata cara berkendara, penggunaan tanda nomor kendaraan, hingga surat izin mengemudi atau rijbewijs mulai menjadi perhatian berbagai pihak. Selain itu, sekolah pelatihan mengemudi juga mulai muncul mengingat banyak kecelakaan di jalanan yang melibatkan pengemudi.


Usulan mendirikan sekolah mengemudi muncul di surat kabar De Express, 27 Juni 1914. Dalam surat terbuka kepada Java Motor Club, beberapa warga Bandung mengusulkan agar segera dibuka sekolah pelatihan bagi pengemudi.


“Permintaan akan pengemudi biasanya melebihi pasokan, yang menyebabkan berbagai pelanggaran. Akibatnya, demi mendapatkan pekerjaan dan gaji yang relatif tinggi, banyak orang yang seringkali tidak dapat diandalkan menyamar sebagai pengemudi... Oleh karena itu, diperlukan kesempatan yang sesuai untuk melatih pengemudi, yang juga akan meningkatkan pasokan akan permintaan yang tinggi,” tulis De Express.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Dibuang ke Belanda tak menghentikan pergerakan Semaoen. Bekerjasama dengan kelompok sosialis dan komunis serta para pelaut Indonesia. Namun, keputusan membuat kesepakatan dengan Perhimpunan Indonesia mengakibatkan pemecatan.
bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
transparant.png
bottom of page