Diperbarui: 1 hari yang lalu
PADA akhir abad ke-19, Amsterdam ada di ambang perpecahan. Jurang perbedaan antara kaya dan miskin semakin menganga. Api konflik mengintip untuk berkobar hebat. Satu percikan saja, dipastikan dapat membakar salah satu kota terbesar di Belanda tersebut. Amsterdam ibarat api dalam sekam.
Di tengah suasana panas itulah, pada 1896 sekelompok masyarakat Amsterdam dari kalangan atas dan bawah berinsiatif menurunkan tensi konflik. Caranya mereka membuka donasi untuk mempersembahkan sesuatu bagi Putri Wilhelmina yang baru saja dinobatkan sebagai ratu Belanda. Setelah terkumpul uang sejumlah 120.000 gulden, maka mereka memutuskan untuk membuat sebuah kereta kencana yang sangat indah.
“Firma Spyker terpilih untuk menangani proyek pembuatan kereta kencana itu,” demikian menurut Thijs van Leewen dan Alberto Strofberg dalam Gouden Koets.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.





![Habib Usman bin Yahya, Mufti Batavia, Agustus 1912. (Nico J.G. Kaptein, Arnoud Vrolijk, dan Liesbeth Ouwehand dalam Sayyid 'Uthman of Batavia [1822- 1914] A Life in the Service of Islam and the Colonial Administration).](https://static.wixstatic.com/media/61a794_eba1e7d3cdbf42ba942e0723a73d0100~mv2.jpg/v1/fill/w_889,h_500,al_c,q_85,enc_avif,quality_auto/61a794_eba1e7d3cdbf42ba942e0723a73d0100~mv2.jpg)






