top of page

Haji yang Ikut Belanda

Diawali sebagai utusan Sentot ke pihak Belanda, Haji ini di kemudian hari dikenali dan dipercaya pihak Belanda.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Sentot Alibasa Prawirodirdjo dan anak buahnya disatukan Belanda menjadi Barisan Ali Basa usai Perang Jawa. Ada seorang haji yang dipercaya Belanda di dalamnya. (Repro Sentot alias Alibasah Abdulmustopo Prawirodirdjo).

  • 27 Mar 2025
  • 2 menit membaca

Diperbarui: 15 Apr 2025

PADANG menjadi kota penting bagi bekas kombatan Diponegoro dari Barisan Sentot Alibasa setelah Perang Jawa berakhir. Usai “menyeberang” ke pihak Belanda, di antara mereka ada yang hidup dengan tunjangan cukup besar. Sekira 40-an dari mereka bahkan mendapat jatah tanah ladang untuk melanjutkan hidup di sana dan Beberapa di antaranya mendapat pasangan hidup perempuan Minangkabau.


“Yang cukup menarik dipandang adalah besarnya pensiun yang diberikan Pemerintah Belanda kepada para kiai bekas barisan Sentot. Yang tertinggi adalah Haji Nisa, menetap di Padang, menerima pensiun tidak kurang dari 224 gulden sebulan. Mungkin karena dia juga dianggap mengepalai semua orang asal suku Jawa di sana,” tulis Rusli Amran dalam Cerita-cerita Lama dalam Lembaran Sejarah.


Tunjangan lebih 200 gulden yang diterima Haji Nisa tentu amat besar. Sebab, pada 1940 saja harga emas masih sekitar 2 gulden per gram.


Namun, tak banyak catatan tentang Haji Nisa. Sebab, sumber-sumber Belanda tak mengeja namanya sebagai Haji Nisa, melainkan Hadjie Nissoeh atau Hadji Nisoeh.


Hadji Nisoeh, disebut Eduard Servaas de Klerck dalam De Java Oorlog van 1825-1830, adalah orang kepercayaan Alibasah Sentot Prawirodirdjo (1808-1855). Besar kemungkinan Hadji Nisoeh dalam Perang Jawa ini adalah Haji Nisa yang di Padang.


Ketika pertempuran antara laskar Diponegoro dengan tentara Belanda agak mereka pada bulan puasa Maret 1829, Hadji Nisoeh dipercaya Sentot untuk bertemu petinggi Belanda. Tujuannya untuk berunding. Sentot dan pasukannya tak ingin bertempur selama puasa. Baru sekitar April setelah puasa mereka siap untuk berunding atau bertempur lagi.


“Hadjie NISSOEH menyatakan keinginannya untuk datang dan berbicara kepada saya. Hari ini atau besok dia akan berada di perusahaan Kapten Roeps,” kenang Letnan Gubernur Jenderal Mercus de Kock, dalam buku Gedenkschrift van den oorlog op Java van 1825 tot 1830.


De Kock menyebut Hadjie Nisoeh bersama seorang Pandjie (sersan pasukan Jawa) bertemu Mayor Bauer untuk mengambil surat dari Kyai Modjo. Dari sanalah Hadji Nisoeh sebagai utusan Sentot akhirnya dikenal oleh pihak Belanda.


Pada 17 Oktober  1829, Kolonel Cochius selaku perwakilan Belanda menyambutnya ke Imogiri, Bantul untuk berunding. Sentot biasa berada di selatan Bantul dan Kulonprogo.


“Awal November 1829 dia sudah pindah ke Bantulan sementara itu orang yang mengelilinginya terdiri dari Pangeran Soemo Negoro dan Ngabdoel Samson. Hadji Nisoeh yang kami kenal dari perundingan terakhir,” catat AWP Weitzel dalam artikel “Gedenkwaardige tafereelen uit den oorlog op Java , van 1825 tot 1830” di majalah Militaire  Spectator edisi Juli 1853.


Selain Hadji Nisooeh, Sentot didampingi 41 Tumenggung (setara letnan dua), 84 Panji (sersan), 268 Ngabehi (kopral), dan 600 prajurit dalam perundingan itu. Mereka membawa senjata api dan tombak.


Usai perundingan, di antara anggota pasukan itu kemudian ada yang pulang ke kampung masing-masing. Mereka yang tidak pulang kemudian dijadikan satu barisan tentara dengan Sentot pemimpinnya, dinamakan Barisan Alie Bassa Prawiero Dirdjo.


Barisan itu, sebut Weitzel, dimaksudkan untuk melawan. Namun ternyata tidak lagi diperlukan karena pada Maret 1830 ada gencatan senjata yang diharapkan Diponegoro akan berlanjut dengan perundingan damai yang menguntungkan, sebagaimana yang didapatkan Sentot sebelum menyerah. Apa yang terjadi kemudian adalah Diponegoro ditangkap. Setelahnya, Barisan Alie Bassa dibawa ke Batavia dan sempat bertempur di Karawang-Purwakarta sebelum dikirim ke Sumatra Barat. Hadji Noesah alias Haji Nisa ikut bersama mereka.*

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Setalah Sutan Sjahrir dibebaskan, para pengikut Tan Malaka menyodorkan konsepsi untuk disetujui Sukarno. Hatta menyadari sedang terjadi kudeta.
bg-gray.jpg
Setelah diculik pengikut Tan Malaka, Sutan Sjahrir bikin perhitungan dengan penangkapan berantai. Adam Malik protes, Sayuti Melik pasrah digelandang ke bui.
bg-gray.jpg
Perdana Menteri Sutan Sjahrir diculik pengikut Tan Malaka, Presiden Sukarno minta Sjahrir dikembalikan.
bg-gray.jpg
Pengikut Tan Malaka menculik Sutan Sjahrir karena dianggap pengkhianat yang menjual tanah air kepada Belanda. Sukarno-Hatta memerintahkan untuk membebaskannya.
Karangan bunga bukan sekadar dekorasi. Tiap bunga memiliki makna, mulai dari tanda cinta hingga peringatan yang mendorong munculnya floriografi atau bahasa bunga.
Karangan bunga bukan sekadar dekorasi. Tiap bunga memiliki makna, mulai dari tanda cinta hingga peringatan yang mendorong munculnya floriografi atau bahasa bunga.
Survei SMRC menunjukan mayoritas warga tidak percaya akan kebangkitan PKI. Dimanfaatkan kelompok tertentu demi tujuan politik.
Survei SMRC menunjukan mayoritas warga tidak percaya akan kebangkitan PKI. Dimanfaatkan kelompok tertentu demi tujuan politik.
Di tengah pandemi orang berharap vaksin menjadi solusi. Bagaimana ketika dahulu vaksin belum dikenal?
Di tengah pandemi orang berharap vaksin menjadi solusi. Bagaimana ketika dahulu vaksin belum dikenal?
Piala Dunia Wanita bentuk pengakuan FIFA terhadap perjuangan puluhan tahun.
Piala Dunia Wanita bentuk pengakuan FIFA terhadap perjuangan puluhan tahun.
Dari sebuah pelana kuda, Hermes menjadi kunci untuk memasuki kalangan sosialita.
Dari sebuah pelana kuda, Hermes menjadi kunci untuk memasuki kalangan sosialita.
Gara-gara wasit telat datang, Italia gagal melakoni laga kualifikasi. Di laga persahabatan malah berakhir kacau. Italia gagal lolos Piala Dunia 1958 di Swedia.
Gara-gara wasit telat datang, Italia gagal melakoni laga kualifikasi. Di laga persahabatan malah berakhir kacau. Italia gagal lolos Piala Dunia 1958 di Swedia.
transparant.png
bottom of page