- 19 Mar 2025
- 2 menit membaca
MENYERAHNYA Sentot Alibasah Prawirodirdjo, salah satu panglima andalan Pangeran Diponegoro, dan pasukannya pada 16 Oktober 1829 sangat menguntungkan Belanda. Kecakapan mereka dalam medan tempur jelas menambah kekuatan pada militer Belanda.
Pasukan Sentot punya organisasi lebih rapi. Antara lain dibuktikan dengan sistem kepangkatan yang diterapkan. Menurut Egbert Broer Kielstra dalam Sumatra's Westkust van 1819–1849, ada pangkat Ngabehi, yang disetarakan sebagai kopral; lalu “Pandjie” (dibaca Panji), yang disetarakan menjadi sersan; Tommonggong (dibaca Tumenggung), disetarakan sebagai letnan. Jika sang tumengung sudah sepuh, dia dianggap letnan satu dan jika masih muda, disetarakan sebagai letnan dua. Raden Tomonggong lalu disetarakan dengan kapten. Seorang pangeran pun lalu disetarakan sebagai mayor.
Tentara Belanda memperlakukan Sentot dan para bawahannya dengan baik. Terlebih setelah mereka sukses memadamkan kerusuhan yang dilakukan orang-orang Tionghoa di Purwakarta-Karawang pada 1832.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

















