top of page

Hoaks, Tantangan Pemuda Masa Kini

Menyebarkan hoaks itu mudah, tapi memperbaiki pikiran rusak itu sulit.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Talkshow "Peran Sumpah Pemuda dalam Sejarah" di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, 28 Oktober 2018

29 Okt 2018
3 menit membaca

PERKEMBANGAN teknologi informasi memudahkan hidup kaum muda. Hari-hari ini mereka menikmati hidup yang lebih nyaman ketimbang generasi sebelumnya. Tetapi hidup nyaman juga menjadi tantangan besar bagi anak muda dalam menjalankan perannya sebagai penjaga persatuan bangsa.


“Musuh kehidupan yang luar biasa adalah kehidupan yang baik,” kata Alissa Wahid, aktivis sosial Jaringan Gusdurian, dalam talkshow ‘Peran Pemuda Dalam Sejarah Bangsa’ di pelataran parkir gedung Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Jakarta, 28 Oktober 2018.


“Bingung ya, kalian?” tanya Alissa kepada puluhan peserta talkshow. Sebagian besar mereka siswa sekolah menengah atas dari berbagai daerah di Indonesia. “Kalau hidup kita nyaman, hidup kita enak, kita menikmati saja hidup itu sehingga tidak bisa mencapai hal-hal yang luar biasa,” lanjut Alissa.


Alissa menerangkan perbedaan kehidupan pemuda zaman ini dengan pemuda lampau. Menurut Alissa, pemuda pada masa lampau memiliki kehidupan yang lebih sulit daripada pemuda sekarang.


Alissa mencontohkan kehidupan pemuda pada zaman penjajahan. Informasi dikuasai sekelompok orang, pendidikan masih terbatas, dan teknologi belum berkembang. Keadaan terjajah menambah beban hidup kaum muda. Pemuda dari satu suku dengan suku lainnya pun saling curiga.


Keadaan yang tidak enak itu mendorong kaum muda untuk mengubahnya. Kaum muda punya cita-cita bersatu. Persatuan modal penting untuk menuju cita-cita yang lebih besar, yaitu kemerdekaan. Wujud tekad bersatu tertuang dalam Sumpah Pemuda 1928. Hasilnya kelihatan pada 1945. Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya. Kaum muda kembali berperan dalam periode ini.


Setelah merdeka, tugas kaum muda adalah menjaga persatuan. “Kita sekarang sudah bersatu. Tapi jangan dianggap bersatunya Indonesia itu dengan sendirinya akan selamanya seperti itu,” tambah Alissa. Dia menceritakan bangsa yang gagal menjaga persatuan.


“Dulu ada negara namanya Yugoslavia. Presidennya, Josep Broz Tito, ikut memprakarsai gerakan Non-Blok bersama Presiden Sukarno. Tapi sekarang negara itu sudah tidak ada karena terpecah-belah,” kata Alissa.


Pembicara lain, Hilmar Farid, Direktur Jenderal Kebudayaan Kemdikbud, turut memaparkan pentingnya kaum muda merawat persatuan. “Keinginan untuk bersatu itu, mau tak mau, harus terus dipupuk, ketika kita menyadari bahwa kita tidakbisa sendirian di atas muka bumi ini,” kata Hilmar.


Hilmar memandang persatuan tidak tumbuh dengan sendirinya, melainkan muncul dari kinginan bersatu. Sejarah Sumpah Pemuda 1928 dapat menjadi patokan bagi pemuda masa sekarang dalam memenuhi tugasnya.


“Dengan mengingat dasar sejarah. Ya, itu dasarnya. Jadi sekarang ini, kita mau tahu bangsa ini mau ke mana, dan segala macam, tidak usah ke mana-mana. Lihat perjalanan sejarahnya saja,” lanjut Hilmar.  


Menurut Hilmar, Sumpah Pemuda 1928 tak berhenti sebatas tiga pernyataan saja: kebangsaan, tanah air, dan bahasa. Sumpah Pemuda 1928 mengamanatkan kepada generasi depan agar terus memperkuat tiga pernyataan itu.


“Di dalam pernyataan itu dibilang, bahwa apa yang disumpahkan itu, dari waktu ke waktu, mesti terus diperkuat. Jadi jangan dikira kalau Sumpah Pemuda dibaca, urusannya sudah selesai. Dibilang di situ, bahwa apa yang disumpahkan itu harus diperkuat,” terang Hilmar.


Pemuda dan Hoaks


Upaya kaum muda sekarang untuk memperkuat Sumpah Pemuda 1928 tak pernah gampang. Hidup mereka sekarang memang jauh lebih mudah daripada generasi sebelumnya. Tetapi tantangan mereka juga berat. Salah satu tantangan besar itu berupa percepatan arus informasi dan berita di media sosial. Tak jarang banyak informasi dan berita palsu (hoaks).


“Repotnya lagi, karena hoaks dibikin dengan sengaja, tujuannya bukan untuk membuat orang hidupnya jadi lebih baik, melainkan supaya saling curiga,” kata Ratih Ibrahim, pembicara dari Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo).


Hoaks di media sosial kerap kali menimbulkan perpecahan masyarakat. Isu-isu sektarianis menjadi bahan bakar paling mudah untuk menyulut amarah kaum muda. “Jika sudah begitu, cita-cita Indonesia tetap langgeng jaya selama-lamanya yang diusahakan para pemuda masa lampau, Sumpah Pemuda, bisa bubar,” ungkap Ratih.


Ratih mengingatkan kaum muda agar mengendalikan jarinya. Menyebarkan informasi salah itu mudah, tapi memperbaiki pikiran rusak itu sulit.


“Tahan jempol kita, periksa dulu sebelum share,” pinta Ratih. Sebab dampak hoakspada pikiran anak muda cukup gawat. Hoaksakan merusak cara pikir anak muda. “Kebayang tidak kalau tiap hari kita sebarkan hoaks? Lama-lama pikiran kita akan terjejali berita bohong,” lanjut Ratih. Segala sesuatu akan dianggap benar. Daya kritis pun menumpul.


Ratih berbagi tips untuk lawan hoaks. “Kaum muda harus resourceful. Bagaimana caranya? Dengan membaca,” kata Ratih. Membaca sumber-sumber terpercaya turut melatih orang berpikir kritis, tidak mudah percaya pada hasutan dan informasi serampangan. “Semakin tinggi literasi seseorang, semakin sulit dibohongi,” kata Ratih.


Pada akhir talkshow, ketiga pembicara mengatakan Indonesia 20-30 tahun mendatang akan sangat bergantung pada anak muda hari ini. “Pemuda Indonesia 1928 tahu persis mau ke mana bangsa ini. Orang sekarang bilang visioner, pandangan jauh ke depan,” kata Hilmar.


Sekarang giliran kaum muda hari ini menentukan arah bangsa ke depan. “Dua puluh tahun lagi, kamu itu ada di mana? Melakukan apa? Kontribusimu, peranmu di dalam bangsa dan negara ini, sebelah mana? Tak perlu dijawab sekarang, tapi kamu pertanyakan terus di dalam hati,” kata Hilmar menutup talkshow.

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Pengalaman dan usianya membuat Gatot Soebroto acap jadi tempat mengadu para perwira. Namanya tetap abadi di banyak tempat, mulai jalan-jalan protokol hingga RSPAD.
bg-gray.jpg
Kasus perdagangan anak di daerah transmigrasi Rawa Makmur, Kalimantan Timur ungkap kemiskinan ekstrem yang menjerat kehidupan para transmigran. Praktik korupsi aparat disinyalir biang keladinya.
bg-gray.jpg
Panglima tempur yang memadamkan gejolak di berbagai daerah. Menggagas banyak hal penting setelah aktif lagi di Angkatan Darat.
bg-gray.jpg
Sebagai gubernur militer, Gatot Soebroto berperan dalam penumpasan pemberontakan PKI di Madiun. Dia disebut turut bertanggung jawab atas eksekusi mati Amir Sjarifoeddin cs.
Di tengah pandemi orang berharap vaksin menjadi solusi. Bagaimana ketika dahulu vaksin belum dikenal?
Di tengah pandemi orang berharap vaksin menjadi solusi. Bagaimana ketika dahulu vaksin belum dikenal?
Beragam cara diambil untuk mengakali atmosfer stadion tanpa “pemain keduabelas”. Dari mural kontroversial hingga boneka seks.
Beragam cara diambil untuk mengakali atmosfer stadion tanpa “pemain keduabelas”. Dari mural kontroversial hingga boneka seks.
Rumah komunal di Sulawesi hanya bertahan dalam ingatan.
Rumah komunal di Sulawesi hanya bertahan dalam ingatan.
Kemenangan Eisenhower dalam pemilihan presiden AS membuat iklan kampanye di televisi menjadi andalan para politisi. Memicu munculnya iklan kampanye negatif.
Kemenangan Eisenhower dalam pemilihan presiden AS membuat iklan kampanye di televisi menjadi andalan para politisi. Memicu munculnya iklan kampanye negatif.
Pemugaran gedung Sarinah akan memadukan sejarah dan modernitas. Ide awal Bung Karno bertemu dengan tantangan zaman.
Pemugaran gedung Sarinah akan memadukan sejarah dan modernitas. Ide awal Bung Karno bertemu dengan tantangan zaman.
Akankah Arab Saudi mengulang prestasi di Piala Dunia 1994?
Akankah Arab Saudi mengulang prestasi di Piala Dunia 1994?
transparant.png
bottom of page