Seperti anak-anak Minangkabau pada umumnya, Tan Malaka mengisi masa kecilnya dengan pendidikan agama dan silat. Pada usia 16 tahun, Tan Malaka pun melanjutkan pendidikannya ke Belanda.
Gatot Soebroto menjadi tentara Belanda ditentang sang ayah karena tidak ingin anaknya menjadi penindas bangsanya. Dia membuktikan diri sebagai tentara yang peduli kaum lemah hingga dicap sersan gila oleh atasannya.
Gatot Soebroto berani dan suka berkelahi, yang berakibat dikeluarkan dari sekolah. Di balik sikap kerasnya, dia baik hati ibarat seharum tanjung tetapi sekeras baja.