- 11 Agu 2020
- 3 menit membaca
Diperbarui: 27 Jul
HARI ini, 11 Agustus 1966. Ruang Pancasila di Gedung Departemen Luar Negeri, Pejambon, Jakarta Pusat ramai. Bersama jajarannya, Menlu Adam Malik menerima delegasi Menlu sekaligus Deputi Perdana Menteri Malaysia Tun Abdul Razak. Keduanya akan memulai babak baru hubungan kedua negara.
Tun Razak bertolak ke Jakarta pagi hari yang sama. Malam sebelumnya, 10 Agustus, dia masih menghadiri sebuah resepsi di Kuala Lumpur sebagai ungkapan rasa syukur terkait rencana kunjungannya ke Jakarta. Dalam resepsi itu, Tun Razak menerima hadiah pena berlapis emas seharga 100 dolar dari penduduk asal Distrik Rompin dan diberikan untuk tujuan khusus.
“Hadiah itu merupakan ungkapan rasa syukur masyarakat terhadap Tun Razak atas usahanya dalam mewujudkan perdamaian,” kata Mentri Besar Pahang Dato Yahya bin Haji Mohamed She yang hadir dalam resepsi itu, sebagaimana dilansir The Straits Times, 10 Agustus 1966. “Tun Razak harus menggunakannya untuk menandatangani pakta perdamaian.”
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















