- 17 menit yang lalu
- 5 menit membaca
DI atas kapal uap yang berlayar menuju Singapura, Eduard Douwes Dekker terkenang masa-masa bertugas di Hindia Belanda. Dia baru saja mengundurkan diri sebagai Asisten Residen Lebak. Saat itu tahun 1857 dan dia tak bisa tinggal lebih lama tanpa pekerjaan. Pria berusia 30-an itu memiliki keluarga dan utang. Dia tak memiliki banyak uang untuk membawa keluarganya ke Eropa, sehingga dia berangkat sendiri sementara keluarganya tetap tinggal di wilayah koloni.
Pada akhir Mei atau awal Juni, Dekker tiba di Marseille, titik awal perjalanan keliling Eropa. Selain Prancis, Italia dan Jerman masuk dalam daftar yang hendak dikunjunginya. Ketiganya merupakan pusat perkembangan politik dan sosial yang pesat setelah revolusi sepanjang tahun 1848 hingga 1849. Dekker hidup berpindah-pindah. Akibatnya, kontak dengan istrinya, Everdine, jarang terjadi.
“Saat itu, dia belum melangkah lebih jauh dari beberapa rumah judi di Eropa. Kini, karena untuk sementara dia menjalani hidup sebagai duda yang belum menikah lagi... dia bisa membiayai petualangannya... Selama perjalanan, dia tidak sering mendapatkan pelajaran tentang gaya penulisan, tetapi justru lebih banyak pelajaran hidup,” tulis Paul van ‘t Veer dalam Het Leven van Multatuli.
Dari Marseille, Dekker melanjutkan perjalanan dengan kapal layar melalui Nice menuju Genoa. Dia bertemu dengan seorang gadis bernama Eugenie. Sempat berkelana melintasi Prancis Selatan, kemudian melanjutkan perjalanan ke Strasbourg, tempat Eugenie tinggal, sementara Dekker berangkat ke Jerman.
Tak banyak peluang usaha yang didapatkan Dekker selama perjalanannya. Alih-alih mendapat pekerjaan untuk kebutuhannya dan keluarga di Hindia, uangnya justru hampir habis di meja judi dan sebagian diberikan kepada Eugenie. Dia pun kesulitan membayar tagihan hotel.
“Dekker tidak ingin kembali ke Belanda. Di sana, yang menantinya hanyalah utang-utangnya. Namun, jika dia ingin, dengan cara apa pun, memulihkan kehormatannya dan mendapat penempatan kembali di dinas Hindia Belanda, dia tidak bisa tinggal terlalu jauh dari Den Haag. Pilihannya jatuh pada Brussel,” tulis van ‘t Veer.
Di Belgia, Dekker bekerja di surat kabar L’Independance Belge karena menguasai beberapa bahasa. Dia cukup menguasai bahasa Inggris untuk membaca The Times dan cukup menguasai bahasa Jerman untuk memahami Augsburger Zeitung serta surat kabar Jerman lainnya. Namun, meski mampu mengucapkan bahasa Prancis dengan lancar, dia masih sering membuat kesalahan dalam penulisan bahasa tersebut.
Oleh karena itu, Dekker tidak diizinkan mengirimkan naskahnya yang memuat bahasa Prancis ke bagian percetakan. Dia harus terlebih dahulu menyerahkan naskahnya untuk diperiksa dan memastikan tidak ada kesalahan bahasa Prancis. Meski begitu, kelemahan ini tak menghalanginya dijuluki sebagai “orang Belanda yang menguasai semua bahasa”.
Namun, ada juga kritik terhadap karyanya yang bersifat nonlinguistik. Dia tidak “disiplin” karena tak mampu menahan diri untuk tidak menyisipkan komentar pribadi dalam ulasannya mengenai artikel-artikel asing yang tidak disetujuinya. Terkadang dia menyisipkan kalimat “pendapat ini tidak masuk akal” atau “alasan ini tidak dapat dipertahankan”. Apabila para editor harus memotong tulisannya, dia tidak mau menerimanya.
“Singkatnya, Dekker adalah sosok yang sulit diajak bekerja sama dan tidak bertahan lama di pekerjaannya di L’ Independance Belge,” tulis van ‘t Veer.
Pekerjaan yang tak bertahan lama menyebabkan Dekker tidak punya uang untuk mengunjungi kafe atau teater. Eugenie yang telah bekerja di Brussel kadang-kadang memberinya sedikit uang. Dia bahkan harus menjual mantel musim dinginnya demi beberapa gulden. Terpuruk dalam kemiskinan, Dekker bertahan hidup dari belas kasihan teman-temannya.
Di kamar losmen murah Au Prince Belge, Dekker membuka paket berisi surat-surat dan dokumen-dokumen dari Hindia Belanda. Di antara catatan-catatan kasar itu terdapat draft surat yang tak jadi dikirim kepada Albertus Jacobus Duymaer van Twist, mantan Gubernur Jenderal Hindia Belanda, tanggal 9 April 1856. Dia membaca draft surat itu dan memutuskan untuk menyurati pria yang pernah menduduki posisi nomor satu di wilayah koloni tersebut. Harapannya, pria yang kini menjadi anggota dewan itu bersedia menolongnya agar dapat kembali bertugas di Hindia Belanda.
Arjan Onderdenwijngaard mencatat dalam Lebak Kota Multatuli, surat yang dikirim Dekker tak pernah direspons oleh Duymaer van Twist. Kakak Dekker, Jan, yang sempat menemui mantan Gubernur Jenderal Hindia Belanda itu ketika mengunjungi Belanda, tidak berhasil menemuinya dan membuat sang adik kembali berdinas di wilayah koloni. Harapan Dekker untuk dapat bekerja di pangkalan Belanda di Nagasaki, yang jauh dari penagih utang di Belanda dan Hindia, pun gagal terwujud.
Dekker yang gelisah, dihantui penagih utang dan beban finansial, kembali berkelana selama enam bulan. Dia sesekali tinggal bersama keluarganya yang telah kembali ke Belanda. Namun, pertemuan kembali dengan keluarganya, yang semakin ramai dengan kehadiran anak perempuan yang dipanggil Noni, tak bertahan lama. Dekker hanya tinggal sebulan karena tidak mampu menafkahi keluarganya, dan keadaan ini kembali membawanya ke meja judi.
Tanpa uang sepeser pun, Dekker kembali ke losmen Au Prince Belgie. Pada 28 September 1859, dia menulis kepada istrinya bahwa dia tengah mempersiapkan sebuah tulisan yang akan diterbitkan dengan nama samaran.
“Banyak paparan keras di dalamnya. Pemerintah dan semua orang di Hindia tahu betul bahwa akulah yang menuliskannya. Tetapi khalayak harus dibuat ragu apakah buku itu sebuah roman yang berdasarkan kebenaran, karena juga dipadatkan dan dipoles. Kutulis sedemikian rupa sampai orang harus berdebat apakah itu benar ada. Tak ada yang lebih menyenangkan bagiku daripada disangsikan orang-orang,” tulis Dekker sebagaimana dikutip Arjan.
Dekker mengerjakannya dengan penuh semangat. Puluhan halaman per hari mengalir dari penanya. Mulanya dia sempat mempertimbangkan untuk menulis surat protes kepada raja, tetapi surat semacam itu tidak menghasilkan apa-apa.
Oleh karena itu, Dekker memutuskan untuk menuangkan protes terhadap kehidupan menyedihkan dirinya maupun penduduk lokal dalam bentuk cerita, sebuah kisah tentang kehidupan mereka sendiri yang dipadukan dengan kondisi pemerintahan yang buruk di Hindia Belanda. Setelah sepuluh hari, dia berhasil menyelesaikan setengah bukunya.
Setelah menyelesaikan versi awal draf Max Havelaar, Dekker mengerjakan versi finalnya dalam tiga minggu. Dia kemudian menjilid manuskripnya dan mengirimkannya kepada kakaknya. Melalui Jan, manuskrip itu diteruskan ke perantara Freemasonry dan belakangan jatuh ke tangan Jacob van Lennep, yang sangat terkesima dengan tulisan itu, pada akhir November 1859. Lennep menyunting naskah itu, membaginya ke dalam beberapa bab, menghapus sejumlah fragmen, melakukan penyelarasan, dan menyamarkan tempat-tempat serta nama-nama di dalamnya.
“Van Lennep membutuhkan hak cipta buku itu untuk mempublikasikannya di bawah penerbit De Ruyter. Di bawah tekanan ekonomi, Multatuli setuju. Setelah itu, van Lennep memindahkan hak cipta bukunya kepada De Ruyter. Bersama-sama mereka berbagi hasil, dan Multatuli ditipu dengan imbalan tip,” tulis Arjan.
Roman Max Havelaar pertama kali diterbitkan di Belanda pada 17 Mei 1860. Cetakan perdananya sebanyak 1.300 eksemplar, jumlah yang besar untuk sebuah novel debut. Buku tersebut diterbitkan dalam dua jilid dengan total harga 4 gulden yang tergolong mahal. Dari 1.300 eksemplar, hanya 20–30 eksemplar yang masuk ke Hindia Belanda. Hal ini sangat disesalkan oleh Dekker, yang menginginkan publikasi populer yang dicetak massal dengan harga murah, sehingga dapat dibaca oleh banyak orang.
Kekecewaan itu berujung pada gugatan Dekker terhadap van Lennep. Sayangnya, putusan pada 29 Juni 1861 menolak gugatannya. Alasannya adalah keinginan Dekker akan adanya edisi populer, bukan mahalanya edisi perdana yang diterbitkan van Lennep. Sementara van Lennep menyatakan bahwa buku yang berkualitas tinggi hanya dapat dibaca oleh kalangan elite dan bukan untuk semua orang.
Tak lama setelah terbit, Max Havelaar menarik perhatian masyarakat dari berbagai kalangan. Ada yang menganggapnya sebagai buku yang membuka mata rakyat Belanda akan sisi gelap kolonialisme di Hindia, tetapi tak sedikit pula yang mengkritik buku tersebut. Upaya Dekker memulihkan reputasinya melalui buku itu tak terlalu berhasil. Dia sempat mencoba terjun ke politik dengan mencalonkan diri sebagai anggota parlemen dari wilayah Tiel, tetapi gagal.
Dekker kemudian menjadi kontributor surat kabar De Locomotief yang terbit di Hindia Belanda. Dia menulis 18 kolom percakapan santai di lampiran halaman depan koran sebanyak 30 nomor setiap Selasa dan Sabtu. Kolom pertama terbit dalam dua bagian pada Selasa, 25 Mei dan Sabtu, 29 Mei 1869. Percakapan santai terakhirnya ditulis pada 29 Desember 1869 dan terbit tanggal 15 Februari 1870.
Eduard Douwes Dekker alias Multatuli tutup usia pada 19 Februari 1887. Dia meninggal dunia di tempat mengasingkan diri di Ingelheim am Rhein, Jerman, dalam usia 67 tahun. Dikabarkan, dia menjadi orang Belanda pertama yang dikremasi. Proses kremasi dilakukan di Gotha, Jerman karena di Belanda belum diperbolehkan.
Istri kedua Dekker, Mimi, dan sejumlah kerabat serta beberapa simpatisan dari Middelburg hadir dalam proses tersebut. Karangan bunga dari Belanda menghiasi peti jenazahnya dengan kutipan dari karyanya yang paling fenomenal, Max Havelaar: “Siapa gerangan orang yang mati itu? Dia orang baik lagi adil.”*


















Komentar