top of page

Jejak Multatuli Setelah Meninggalkan Lebak

Setelah mengundurkan diri sebagai Asisten Residen Lebak, Eduard Douwes Dekker berkelana ke berbagai negara Eropa. Dia menulis Max Havelaar dalam keadaan tak punya uang dan dikejar utang.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Eduard Douwes Dekker alias Multatuli penulis Max Havelaar. (KITLV).

27 Agu
5 menit membaca

DI atas kapal uap yang berlayar menuju Singapura, Eduard Douwes Dekker terkenang masa-masa bertugas di Hindia Belanda. Dia baru saja mengundurkan diri sebagai Asisten Residen Lebak. Saat itu tahun 1857 dan dia tak bisa tinggal lebih lama tanpa pekerjaan. Pria berusia 30-an itu memiliki keluarga dan utang. Dia tak memiliki banyak uang untuk membawa keluarganya ke Eropa, sehingga dia berangkat sendiri sementara keluarganya tetap tinggal di wilayah koloni.


Pada akhir Mei atau awal Juni, Dekker tiba di Marseille, titik awal perjalanan keliling Eropa. Selain Prancis, Italia dan Jerman masuk dalam daftar yang hendak dikunjunginya. Ketiganya merupakan pusat perkembangan politik dan sosial yang pesat setelah revolusi sepanjang tahun 1848 hingga 1849. Dekker hidup berpindah-pindah. Akibatnya, kontak dengan istrinya, Everdine, jarang terjadi.


“Saat itu, dia belum melangkah lebih jauh dari beberapa rumah judi di Eropa. Kini, karena untuk sementara dia menjalani hidup sebagai duda yang belum menikah lagi... dia bisa membiayai petualangannya... Selama perjalanan, dia tidak sering mendapatkan pelajaran tentang gaya penulisan, tetapi justru lebih banyak pelajaran hidup,” tulis Paul van ‘t Veer dalam Het Leven van Multatuli.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Di usianya yang masih muda, Semaoen memimpin dan menggerakkan serikat buruh. Dia memperjuangkan pekerja tertindas dengan melancarkan pemogokan, sampai diusir pemerintah kolonial.
bg-gray.jpg
Beranjak remaja di tengah berseminya pergerakan, Semaoen “dibentuk” Sneevliet guna merintis jalan revolusioner.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah suffered a series of losses during her life. She lost four of her loved ones in a very short time.
bg-gray.jpg
Sebagai pegawai kereta api, masa depan Semaoen terjamin. Namun, dia memilih terjun ke pergerakan karena melihat ketidakadilan yang dialami rakyat jajahan.
transparant.png
bottom of page