- 8 Okt 2023
- 5 menit membaca
Diperbarui: 13 Apr
MEI 1913, kesempatan itu datang. Hanya tiga bulan setelah tiba di Hindia Belanda, dan sempat bekerja di Surabaya sebagai staf editor Soerabajaasch Handelsblad, Henk Sneevliet hijrah ke Semarang. Ia menyambut tawaran yang lebih menarik, menggantikan DMG Koch sebagai sekretaris Semarang Handelsvereeniging. Bagi Sneevliet, kepindahan ini punya arti penting. Bukan soal gaji besar, lebih dari itu, keinginan menemukan suasana yang cocok bagi aktivitas pergerakan.
Merujuk Ruth T. McVey, Semarang pada masa itu tumbuh menjadi pusat kepentingan komersial orang-orang Eropa yang hendak membangun pasar di Jawa. Kota ini tengah membentuk dirinya menjadi enclave industri besar yang menyerap banyak tenaga kerja dari wilayah hinterland. Keberadaan kelas buruh menciptakan suasana revolusioner lebih kental dari kota-kota besar lain di Hindia Belanda.
Sejarah mencatat, selama berada di Semarang, anggota Partai Buruh Sosial Demokrat Belanda (SDAP) itu aktif melakukan kerja-kerja revolusioner: menyokong aktivitas Serikat Pekerja Kereta Api dan Trem (VSTP), mendirikan Persatuan Sosial Demokrat Hindia Belanda (ISDV), memerahkan Angkatan Laut dan tentara Belanda, serta menyusupkan paham marxisme di kalangan aktivis pergerakan nasional. Ikhtiar Sneevliet melahirkan manusia-manusia radikal seperti Semaoen, Darsono, dan Mas Marco Kartodikromo yang gencar melakukan perlawanan politik terhadap pemerintah kolonial.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.















