top of page

Kisah Kang Aeng dan Bung Karno

Marhaenisme menjadi simbol ideologi yang berisi refleksi pemikiran politik Sukarno. Tercipta dari hasil dialog dengan seorang petani miskin.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Pertemuan para tokoh PNI dengan istri Marhaen pada 1969. (Repro Drs. H. Hardjantho Sumodisastro, Pembangunan Ekonomi Indonesia dan Kapita Selekta).

15 Mar 2018
2 menit membaca

Diperbarui: 13 Apr

SUATU pagi di tahun 1920-an, Sukarno mengayuh sepeda tak tentu arah dan tujuan. Hingga tanpa sadar dia sudah ada di pelosok Bandung bagian selatan. Pandangannya membentur sosok petani yang tengah mencangkul sawah.


Sukarno menghentikan sepedanya dan mendekati sang petani. Terjadilah dialog yang cukup akrab sebagaimana dikisahkan dalam otobiografinya, Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia.


“Siapa pemilik tanah yang kau garap ini?” tanya Sukarno.


“Saya, Juragan,” jawab sang petani.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
transparant.png
bottom of page