top of page

Kode Bahaya Masa Perang Kemerdekaan

Bermacam isyarat diciptakan oleh rakyat untuk memperingatkan gerilyawan Republik akan kehadiran tentara Belanda.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Patroli tentara Belanda di Banyumas. (Arsip Nasional Belanda).

26 Apr 2020
4 menit membaca

Diperbarui: 12 Agu

SUKANAGARA, Cianjur Selatan pada 1947. Soma baru saja melantunkan azan ashar saat sudut matanya menangkap gerakan beberapa serdadu Belanda di jalanan kampung. Tetiba dia ingat beberapa gerilyawan Republik yang sedang mandi di sungai belakang surau.


“Saya yang tadinya mau teriak hayya’ ala shalah, ku bakat geumpeur (karena saking gugup) dan takutnya, jadi teriak aya walandaaa (ada Belandaaa),” kenang lelaki berusia 92 tahun itu.


Namun, lantunan azan Soma yang tak lazim itu, lekas ditangkap oleh para gerilyawan dan penduduk kampung. Secepat kilat mereka langsung menghindar dari kawasan itu. Ada yang langsung masuk hutan, ada juga yang pura-pura mengerjakan sesuatu. Kelompok terakhir itu adalah orang-orang kampung yang tak sempat menyelamatkan diri.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
bg-gray.jpg
Semaoen membawa Sarekat Islam cabang Semarang ke arah radikal. Pecah kongsi dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Semaoen membentuk Sarekat Islam Merah.
transparant.png
bottom of page