Diperbarui: 12 Jul 2025
JEMBATAN Watulimo, Trenggalek, Jawa Timur di suatu siang pada pertengahan Januari 1949. Segelintir pasukan Detasemen Udara Prigi yang merupakan bagian dari pasukan Pangkalan Udara (Lanud) Campurdarat memasang bom tarik dari sisa-sisa peledak peninggalan Jepang. Namun, upaya peledakan itu berkali-kali gagal meski bomnya sudah dirakit dan dipasang dengan seksama.
Sebulan sebelumnya, Detasemen Udara Prigi pimpinan Opsir Moeda Oedara (OMU) III Hanandjoeddin yang menyisakan 83 kombatan itu mengungsi dari pertahanan Pantai Prigi. Mereka mengungsi karena kapal perang Belanda membombardir kubu pertahanan gabungan Detasemen Udara Prigi (AURI) dan Corps Armada IV (ALRI) pada Agresi Militer Belanda II, 19 Desember 1948.
“Anggota telik sandi melaporkan bahwa Belanda telah mencapai Kewedanan Kampak. Satu-satunya cara untuk menghambat pergerakan Belanda di wilayah Watulimo adalah memutus jembatan penghubung antara Kewedanan Watulimo dan Kampak,” tulis Haril M. Andersen dalam biografi Sang Elang: Serangkai Kisah Perjuangan H. AS. Hanandjoeddin di Kancah Revolusi Kemerdekaan RI.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















