Diperbarui: 4 Okt
GERIMIS memayungi Pantai Prigi, Trenggalek, Jawa Timur saat Opsir Muda Udara (OMU) III Hanandjoeddin, komandan Sub Sektor II Pantai Selatan, Detasemen Udara Prigi, Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) tengah berjaga bersama pasukannya pada siang 19 Desember 1948. Namun tetiba bukan air hujan saja yang mengguyur tapi juga tembakan dari sebuah kapal penjelajah Belanda.
Menurut Haril M. Andersen dalam biografi Sang Elang: Serangkai Kisah Perjuangan H. AS. Hanandjoeddin di Kancah Revolusi Kemerdekaan RI, kapal penjelajah Belanda itu sebelumnya sudah mengacak-acak pertahanan pasukan “Kiblik” di pantai Pacitan. Saat siang itu memasuki sekira pukul 13.30, giliran Pantai Prigi yang disasarnya.
“Pantai Pacitan dihujani tembakan dari arah laut pada pukul 11.00. Dua jam kemudian giliran Detasemen Udara Prigi mendapat serangan hebat. Kapal perang (cruiser) Angkatan Laut Belanda itu melepaskan tembakan membabi-buta ke arah pantai,” tulis Haril.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















