top of page

Gempur Menggempur di Malang Timur

Ketika pasukan AURI berdarah-darah di Front Malang.

loading_historia_white.gif
transparant.png

H. A.S. Hanandjoeddin (kiri depan) bersama pasukan PPU III Malang kala bersiaga di Front Malang Timur. (Koleksi Haril M. Andersen/Dok. H. A.S. Hanandjoeddin).

  • 22 Okt 2018
  • 4 menit membaca

Diperbarui: 6 hari yang lalu

TAMAN bin Muhammad Tohir begitu antusias menceritakan pengalaman masa mudanya. Saking antusiasnya, lelaki tua itu sampai mohon diri sejenak untuk mengganti kaosnya dengan seragam kebanggaannya, seragam biru muda dengan sederet tanda penghargaan di dada kiri plus baret jingga TNI AU di kepala, sebelum melanjutkan cerita.


Seragam itulah simbol pengabdiannya pada negeri. Pengabdiannya dimulai ketika Perang Kemerdekaan pecah tak lama setelah proklamasi. Taman yang kala itu anggota Brigade 13 Divisi Untung Suropati TNI Angkatan Darat, ikut bergerilya di Malang.


Meski sudah lebih dari 70 tahun, Taman masih ingat betul kisah sebuah pertempuran di Tumpang, Malang, Jawa Timur. Bersama pasukan dari bagian Teknik AURI (Angkatan Udara Republik Indonesia, kini TNI AU), dia ikut beradu nyawa berbekal sten gun meladeni serdadu Belanda, medio Juli-Agustus 1947.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Maria Ullfah suffered a series of losses during her life. She lost four of her loved ones in a very short time.
bg-gray.jpg
Sebagai pegawai kereta api, masa depan Semaoen terjamin. Namun, dia memilih terjun ke pergerakan karena melihat ketidakadilan yang dialami rakyat jajahan.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah’s first marriage ended in tragedy. Her husband was shot and killed by Dutch soldiers. Her second spring of love unfolded with Soebadio Sastrosatomo.
bg-gray.jpg
Captain Drury, a veteran of the Java Invasion, is the only British person buried in the old Dutch cemetery at the Bogor Botanical Gardens.
transparant.png
bottom of page