top of page

Konsep Toleransi Mohammad Natsir

Mohammad Natsir meyakini toleransi beragama sebagai bagian dari Pancasila. Tidak menghargai agama lain hanya akan mencoreng cita-cita dari Pancasila.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Ilustrasi Mohammad Natsir. (Betaria Sarulina/Historia.ID).

6 Des 2020
3 menit membaca

Diperbarui: 17 Jul

OKTOBER 1967. Ketegangan antar umat Islam dan Kristen terjadi di Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Pada awal bulan itu, sekitar 20 gereja dan sekolah Kristen dirusak oleh sekelompok pemuda. Disinyalir perusakan dilakukan sebagai buntut pernyataan seorang guru sekolah Protestan di kota itu yang menghina agama Islam.


Sebelumnya, Juni 1967, gesekan antar umat juga terjadi di Meulaboh, Aceh Barat dan Sumatera Selatan. Sebuah gereja di masing-masing daerah dibakar oleh penduduk Muslim. Pemicunya adalah pembangunan gereja itu dianggap tidak pantas karena dilakukan di tengah pemukiman Muslim yang hanya dihuni oleh sedikit umat Kristiani saja.


“Sejak naiknya Orde Baru, hubungan umat Islam dan Kristen di Indonesia memperlihatkan perkembangan baru. Jumlah konflik Islam-Kristen menanjak tajam, terutama dalam bentuk penutupan, perusakan, dan pembakaran gereja,” ungkap Ihsan Ali-Fauzi, dkk dalam Kontroversi Gereja di Jakarta.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Dibuang ke Belanda tak menghentikan pergerakan Semaoen. Bekerjasama dengan kelompok sosialis dan komunis serta para pelaut Indonesia. Namun, keputusan membuat kesepakatan dengan Perhimpunan Indonesia mengakibatkan pemecatan.
bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
transparant.png
bottom of page