top of page

Cara Natsir Menghidupkan Pendidikan Islam

Ketika bayaran untuk program pendidikan Islam yang dikelolanya mandek menjelang lebaran, Natsir mampu mengatasinya lewat zakat.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Mohammad Natsir. (nationaalarchief.nl).

26 Mei 2020
2 menit membaca

MENJELANG Hari Raya Idulfitri tahun 1934 cobaan datang menghampiri Mohammad Natsir. Program Pendidikan Islam (Pendis) di Bandung yang dipimpinnya sedang dirundung masalah ekonomi. Hampir tidak ada pendapatan yang masuk. Sementara uang sewa tempat, buku, dan gaji para guru tiap bulan harus tetap berjalan.


Keadaan itu terjadi karena banyak murid menunggak uang sekolah. Dikisahkan Lukman Hakiem dalam Biografi Mohammad Natsir: Kepribadian, Pemikiran, dan Perjuangan, orang tua mereka sibuk mempersiapkan perayaan lebaran. Sebab membeli baju kala itu menjadi suatu hal yang penting ketimbang keperluan pendidikan. Sebagai sekolah partikelir yang tidak mendapat subsidi dari pemerintah, uang dari para murid menjadi tumpuan Natsir menjalankan program pendidikannya ini.


“Dalam pada itu, para guru justru sangat memerlukan gaji, karena mereka juga menghadapi bulan Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri,” tulis Lukman.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Dibuang ke Belanda tak menghentikan pergerakan Semaoen. Bekerjasama dengan kelompok sosialis dan komunis serta para pelaut Indonesia. Namun, keputusan membuat kesepakatan dengan Perhimpunan Indonesia mengakibatkan pemecatan.
bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
transparant.png
bottom of page