- 26 Mei 2020
- 2 menit membaca
MENJELANG Hari Raya Idulfitri tahun 1934 cobaan datang menghampiri Mohammad Natsir. Program Pendidikan Islam (Pendis) di Bandung yang dipimpinnya sedang dirundung masalah ekonomi. Hampir tidak ada pendapatan yang masuk. Sementara uang sewa tempat, buku, dan gaji para guru tiap bulan harus tetap berjalan.
Keadaan itu terjadi karena banyak murid menunggak uang sekolah. Dikisahkan Lukman Hakiem dalam Biografi Mohammad Natsir: Kepribadian, Pemikiran, dan Perjuangan, orang tua mereka sibuk mempersiapkan perayaan lebaran. Sebab membeli baju kala itu menjadi suatu hal yang penting ketimbang keperluan pendidikan. Sebagai sekolah partikelir yang tidak mendapat subsidi dari pemerintah, uang dari para murid menjadi tumpuan Natsir menjalankan program pendidikannya ini.
“Dalam pada itu, para guru justru sangat memerlukan gaji, karena mereka juga menghadapi bulan Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri,” tulis Lukman.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















