top of page

Kontroversi Identias Gender Atlet di Olimpiade

Olimpiade Paris 2024 memunculkan kontroversi gender yang menimpa atlet Aljazair Imane Khelif. Atlet lari Stella Walsh dan Helen Stephens juga mengalami hal yang sama.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Stella Walsh mengalahkan pelari cepat Jepang, Hitomi Kinue, di nomor 100 meter di Warsawa, 1930. (Kurier Codzienny Narodowe Archiwum Cyfrowe/Sheldon Anderson, The Forgotten Legacy of Stella Walsh).

10 Agu 2024
4 menit membaca

Diperbarui: 10 Jul

ATLET Aljazair Imane Khelif yang bertanding dalam cabang tinju Olimpiade Paris 2024 menjadi sorotan publik dunia. Kontroversi muncul ketika Khelif mengalahkan petinju Angela Carini dari Italia di babak 16 besar kelas welter putri hanya dalam waktu 46 detik. Ini kemudian memunculkan pro dan kontra, sebab tak sedikit orang yang meragukan identitas gender Khelif karena kekuatannya dianggap seperti pria.


Kontroversi itu mendorong sejumlah pihak angkat bicara. Pihak Aljazair membantah tudingan yang menyebut Khelif bukan wanita. Juru bicara International Olympic Committee (IOC), Mark Adams juga menegaskan bahwa tidak ada catatan mengenai transgender dalam riwayat sang atlet. Khelif sendiri menegaskan bahwa dia adalah wanita tulen. Pro dan kontra terkait jenis kelamin Khelif membuat Carini buka suara. Dia meminta maaf kepada Khelif atas kontroversi yang muncul setelah keduanya bertanding.


Keraguan terhadap identitas gender atlet wanita bukan kali ini saja terjadi. Di masa lalu, sejumlah atlet seperti Stella Walsh dan Helen Stephens juga pernah menjadi sorotan publik karena penampilan serta keahliannya di lapangan dianggap seperti laki-laki.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
transparant.png
bottom of page