top of page

Layar Belum Terkembang

Benarkah nenek moyang kita seorang pelaut? Ketidaktahuan terhadap masa lalu membuat kita sulit membedakan fakta dan mitos.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Deklarasi kemenangan Jokowi-Jusuf Kalla di atas kapal phinisi KM Hati Buana Setia yang bersandar di Dermaga 9, Pelabuhan Sunda Kelapa, 22 Juli 2014. (Micha Rainer Pali/Historia.ID).

8 Jun 2017
4 menit membaca

ANGIN ribut, petir, dan badai menerjang wilayah kerajaan Mataram. Pohon-pohon tumbang. Di laut selatan, ombak menggunung. Fenomena alam tak biasa itu membuat Nyai Roro Kidul sebagai penguasa laut selatan terkejut. Dia berdiri di tepi laut untuk mencari tahu penyebabnya. Dia mendapati Panembahan Senapati sedang bersemedi. Kepada sang raja Mataram itu dia memohon.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
transparant.png
bottom of page