top of page

Legenda Shachihoko Sang Maskot Asian Games

Kastil Nagoya berdiri kokoh dengan sepasang Shachihoko sebagai “mahkotanya”. Mahkluk mitos Jepang itu jadi inspirasi maskot Asian Games 2026.

loading_historia_white.gif
transparant.png

"Honohon", maskot resmi Asian Games 2026 yang terinspirasi dari mitologi Shachihoko (oca.asia)

2 jam yang lalu
4 menit membaca

TUBUHNYA berupa humanoid api berwarna merah dan putih, sepasang mata besarnya bersolek kumadori dengan bentuk telinga menyerupai makhluk mitos Shachihoko. “Honohon” nama sosok itu, kata bahasa Jepang untuk menyebut api. Figur itulah yang jadi maskot resmi Asian Games Aichi-Nagoya 2026.


Hajatan olahraga terbesar Asia tahun ini, Asian Games Aichi-Nagoya 2026, akhirnya digelar mulai Sabtu (19/9/2026) besok, berlangsung sampai 4 Oktober. Ini kali ketiga Jepang jadi tuan rumah setelah Asian Games Tokyo 1958 dan Asian Games Hiroshima 1994.


Seperti sebelumnya, Prefektur Aichi dan kota Nagoya juga akan kembali jadi tuan rumah Asian Para Games yang dihelat 18-24 Oktober 2026. Sebagaimana di gelaran sebelumnya, Asian Para Games Aichi-Nagoya 2026 juga punya maskot mirip, yakni berupa humanoid air berwarna biru dan putih dengan mata besar dan telinga yang juga menyerupai Shachihoko. Namanya Uzumin, yang berarti pusaran air musim semi.


Mengutip laman Asian Games Aichi-Nagoya 2026, elemen api pada Honohon –yang lahir dari karya desainer grafis Yoshiyuki Nakagawa– sarat bermacam simbol. Selain menggelorakan semangat kelompok pendekar samurai eksentrik bersejarah Kabukimono yang memang berasal dari Aichi, juga untuk menyulut gairah masyarakat Asia melalui olahraga sesuai slogan Asian Games ke-20: Imagine One Asia.


Sedangkan Uzumin –yang merupakan karya desainer grafis Shinichi Kodama– sengaja menampilkan elemen air yang juga memiliki makna simbolis tersendiri. Laman Asia Para Games Aichi-Nagoya 2026 menguraikan, Uzumin berasal dari dua lema: uzu (pusaran air) dan izumi (musim semi). Figur dan namanya menyimbolkan harapan bahwa gairah atlet-atlet para games bisa berkumpul di Aichi-Nagoya dengan keceriaan seperti menyambut musim semi dan gairah mereka bisa menyatu seperti pusaran air karena para games-nya mengusung slogan “Imagine One Heart”.


"Uzumin", maskot Asian Para Games 2026 (Tangkapan Layar Youtube 愛知・名古屋2026アジアパラ競技大会)
"Uzumin", maskot Asian Para Games 2026 (Tangkapan Layar Youtube 愛知・名古屋2026アジアパラ競技大会)

Makhluk Pelindung Kastil

Baik Honohon maupun Uzumin berbeda elemen konsep dari dua desainer grafis yang berbeda pula. Namun, keduanya sama-sama terinspirasi dari Shachihoko.


Dalam mitologi Jepang, Shachihoko adalah makhluk mitos lautan yang acap bisa ditemui wujudnya dalam bentuk dekorasi atap bangunan-bangunan tua yang megah. Salah satunya di Kastil Nagoya, di mana kastil yang berasal dari Zaman Edo di abad ke-17 itu juga jadi titik start pawai obor Asian Games pada 22 Agustus 2026.


Shachihoko sendiri berwujud dua hewan dalam satu figur: berbadan ikan mas dan berkepala harimau. Marak terlihat di atap kastil-kastil, menara-menara, atau gerbang-gerbang megah dari berabad-abad lampau.


“Pada gambaran umumnya, shachihoko seperti ikan, tubuhnya berbalut sisik besar berwarna hitam atau kelabu. Pada konsepsi umum kepalanya seperti naga atau harimau. Kedua siripnya mengembang seperti sepasang sayap, memiliki sirip ekor tajam yang tumbuh dari belakang kepala ke ekornya. Ia memiliki lubang di kepalanya sepertu paus dan dikatakan memiliki kekuatan untuk bisa membunuh paus dengan cepat,” catat Mock Joya dalam Japan and Things Japanese.


Tidak diketahui sejak kapan mitologi Shachihoko muncul di tengah-tengah masyarakat Jepang. Hanya diketahui mitosnya mulai dikenal sejak Zaman Nara (710-794 Masehi) lalu mulai populer muncul sebagai dekorasi-dekorasi atap bangunan sejak era Sengoku (1467-1651).


Menurut Farrin Chwalkowski dalam Symbols in Arts, Religion and Culture: The Soul of Nature, Shachihoko punya keterkaitan dengan mitologi Buddhisme, yang ajarannya menyebar di Jepang sebagai agama terbesar selain Shintoisme. Dalam mitologi Buddhisme, ikan acap disimbolkan sebagai kekayaan dan cinta, sebagaimana ikan mas jadi satu dari Ashtamangala atau delapan simbol suci Buddhisme.


“Ikan dalam simbol-simbol Buddha terdiri dari sepasang ikan yang berasal dari dua sungai suci di India, Gangga dan Yamuna. Dalam tradisi China, sepasang ikan biasanya jadi simbol persahabatan atau pernikahan yang bahagia. Di Jepang, ikan mengartikan kemakmuran, kebahagiaan dan kebebasan. Selain jadi salah satu simbol Buddhisme, ikan juga punya simbol untuk hidup yang bebas rasa takut terhadap lautan atau penderitaan. Shachihoko sering muncul dalam bentuk ikan dan dipasang di kedua ujung atap sebuah kastil,” urai Chwalkowski.


Para bangsawan feodal dan para samurai ternama, terutama yang berasal dari kawasan-kawasan pesisir, sangat membanggakan kastil-kastil mereka terpajang sepasang Shachihoko jantan dan betina di atapnya. Mereka mempercayai bahwa di balik megah dan kokohnya bangunan kastil-kastil itu, sepasang Shachihoko itulah yang akan melindunginya.


Kinsachi atau Shachihoko berbahan emas di atap Kastil Nagoya (nagoyajo.city.jp)
Kinsachi atau Shachihoko berbahan emas di atap Kastil Nagoya (nagoyajo.city.jp)

Shachihoko dipercaya bisa membuat mereka aman dan terlindungi dari kebakaran, mengingat atap-atap kastil jepang terbuat dari kayu. Mereka juga mempercayai Shachihoko akan membuat mereka aman dari bahaya kekeringan.


“Legenda mengatakan makhluk itu punya kekuatan untuk memanggil hujan, melindungi kastil mereka dari api, dan rakyatnya dari kekeringan. Jika pada suatu musim panas terjadi kekeringan sampai sungai-sungai pun mengering dan panen gagal, seorang daimyo (feodal penguasa, red) akan memanjat ke atap, di mana Shachihoko berada, ia berlutut dan meminta agar mereka dilindungi dan dicegah dari kehancuran,” tulis David McGill dalam Yokai Legends: Tales of Japanese Mythology and Mystery.


Namun itu sekadar cerita legenda dari mulut ke mulut. Terlepas darinya, hingga era awal modernisasi Jepang pun Shachihoko tetap dihormati kendati sekadar jadi dekorasi belaka. Dekorasi yang pada akhir abad ke-19 justru jadi patokan gengsi tersendiri, seperti yang terjadi di Kastil Nagoya.


Orientalis asal Amerika Serikat William Elliot Griffis yang bertualang di Jepang sejak 1870 turut menggambarkan, bahwa masyarakat di Nagoya, terutama kaum elit dan kaya punya gengsi tersendiri karena mereka tinggal di dekat kastil dengan dekorasi Shachihoko di atapnya itu. Griffis menguraikan pengalamannya berkeliling Prefektur Aichi dan kota Nagoya dalam artikel yang dimuat dalam majalah misi Kristen, The Gospel in All Lands, edisi September 1889, “Kites and the Golden Fish of Nagoya”.


“Para penguasa Domain Owari begitu bangga, kaya, dan berkuasa, dan mereka memasang (dekorasi) ikan dari emas di kastil mereka, setelah mereka meminta para pengerajin emas dan perak untuk membuat shachihoko setinggi 10 kaki. Di Jepang kelas-kelas masyarakat yang lebih baik – yang mendapatkan privilese kekayaan, pendidikan, atau posisi – tinggal di dalam atau dekat kastil. Salah satu hal pertama yang mereka lihat setelah lahir di luar rumah adalah ikan itu di atas menara kastil. Makanya orang-orang Jepang itu dengan bangga akan mengatakan, ‘Aku lahir dalam jarak pandang shachihoko’,” tukas Griffis.*



Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
bg-gray.jpg
Semaoen membawa Sarekat Islam cabang Semarang ke arah radikal. Pecah kongsi dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Semaoen membentuk Sarekat Islam Merah.
bg-gray.jpg
Semaoen dikenal sebagai wartawan yang tajam mengkritik pengusaha kapitalis dan pemerintah kolonial. Akibatnya, dia dipenjara karena delik pers. Selama ditahan, dia menulis Hikajat Kadiroen.
transparant.png
bottom of page