- 5 Agu 2010
- 5 menit membaca
Diperbarui: 17 Mei
MR. Mas Slamet kecewa berat pada golongan Republiken yang dianggapnya kolaborator fasis Jepang. Padahal, menurut dia Jepang banyak mendatangkan kesengsaraan pada rakyat. Mas Slamet lantas menggantungkan nasib kepada Ratu Belanda dengan harapan Ratu bisa melakukan sesuatu untuk rakyat Indonesia. Dia pun pergi ke Belanda, bersikeras bertemu Ratu Wilhelmina.
Peyandang gelar mester in de rechten (sarjana hukum) itu mengatakan kepergiannya ke Belanda bukan untuk jalan-jalan menyenangkan diri melainkan menerangkan kesulitan rakyat Indonesia di bawah pendudukan Jepang.
“Tuan Sukarno atau tuan Sjahrir atau siapa orangnya tidak akan setuju dengan rencana saya ini. Tuan Sukarno dan kawan-kawannya adalah orang-orang yang sama dengan fasis, yang telah melakukan perbuatan-perbuatan dengan tipu muslihat ketika Jepang berlutut,” tulis Zaman Baroe, 6 Juni 1946.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















