- 14 Okt 2023
- 5 menit membaca
Diperbarui: 6 Agu
DARI zaman ke zaman, masyarakat etnis Tionghoa senantiasa mengalami dilema. Dari zaman kolonial sampai era Reformasi, aneka stigma negatif masih mengikuti mereka. Oleh karenanya, menjadi penting untuk memulai mencari ruang yang setara untuk mengakui peran etnis Tionghoa dalam “Rumah Indonesia” lewat pendidikan.
Menurut akademisi cum koordinator Program Studi S2 Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Dr. Abrar, jika Indonesia ingin menyongsong masa depan sebagai bangsa yang modern, mestinya sudah bisa menempatkan setiap suku bangsa pada posisi yang sama tanpa perbedaan perlakuan. Utamanya dalam melihat konteks sejarah dengan narasi peran yang setara.
“Kenyataannya masih tetap saja terjadi (ketidaksetaraan). Sudah menjadi tugas kita semua, terutama guru-guru yang menjadi ujung tombak, untuk meng-clear-kan persoalan (peran etnik) Tionghoa,” tutur Abrar saat membuka kuliah umum dan workshop bertajuk “Membangun Kesetaraan bagi Etnik Tionghoa melalui Pendidikan Sejarah”, di Gedung Pascasarjana UNJ, Jumat (13/10/2023).
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















