top of page

Mencatat Rosihan Mengenang Soerjono

Dua wartawan pada jalan nasib yang menyimpang.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Rosihan Anwar dan Soerjono.

18 Apr 2011
6 menit membaca

Diperbarui: 10 Mei

SEKIRA pertengahan 2008 saya bertemu Rosihan Anwar di Kedutaan Besar Kerajaan Belanda di Jakarta. "Bung, sekarang kalau terbang ke Belanda berapa lama tuh?" tanyanya. "Tigabelas, atau empatbelas jam," jawab saya. Saat itu Rosihan tidak bilang akan ke Belanda, namun setahun kemudian, pada Desember 2009, sebagai wartawan yang pernah meliput jalannya Konferensi Meja Bundar (KMB) 1949, dia diundang hadir dalam peringatan 60 tahun KMB di Den Haag, Belanda dan diundang ke redaksi Radio Nederland di Hilversum, Belanda.


Kini, saya paham mengapa dia ingin tahu waktu tempuh penerbangan dari Jakarta ke Belanda. Mungkin dia mau membandingkan dengan perjalanannya 60 tahun sebelumnya, saat meliput KMB yang belakangan dituturkannya secara rinci, menelan dua hari perjalanan dengan pesawat baling-baling dan transit di Bangkok, Thailand. Rosihan gemar bercerita rinci.


Layaknya wartawan, dia selalu antusias ketika pergi jauh dan meliput sebuah peristiwa besar seperti KMB. Layaknya wartawan pula, dia merekam peristiwa itu dalam ingatannya. Rosihan reporter sejati. Pencatat peristiwa in the first place. Goenawan Mohammad menyebut “pada reportase Rosihan berlaku journalism is the first rough draft of history.”

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
transparant.png
bottom of page