KEPANIKAN terjadi saat Bung Karno dan Bung Hatta dikabarkan menghilang dari kediamannya. Dua lakon utama yang tengah mempersiapkan proklamasi itu tetiba tidak diketahui rimbanya. Petunjuk mengarah kepada golongan muda yang memang beberapa waktu menekan Bung Karno dan Bung Hatta menyegerakan proklamasi. Ahmad Subardjo, ditemani Sudiro, segera menemui salah seorang tokoh golongan muda, Wikana.
Subardjo, sebagaimana disebutkan Suhartono dalam Kaigun Penentu Krisis Proklamasi, dikenal dekat dengan Wikana. Dia yakin kawannya itu akan mengatakan keberadaan Bung Karno dan Bung Hatta kepadanya. Namun Wikana bersikukuh merahasiakan keberadaan mereka. Akhirnya, dengan “menggadaikan” namanya, Subardjo berjanji melaksanakan proklamasi begitu Bung Karno dan Bung Hatta kembali ke Jakarta. Wikana pun akhirnya betus.
Setelah mengetahui di mana Bung Karno dan Bung Hatta berada, Subardjo langsung menjemput keduanya. Pada waktu yang bersamaan, Wikana bersama beberapa pemuda yang sengaja ditinggal di Jakarta melakukan persiapan penyelenggaraan proklamasi. Dari keterangan Sidik Kertapati dalam bukunya Sekitar Proklamasi 17 Agustus 1945, Wikana bertugas mengatur semua keperluan pembacaan proklamasi di rumah Bung Karno. Dia juga memastikan kesediaan Laksamana Tadashi Maeda untuk menjadikan rumahnya sebagai tempat perumusan naskah proklamasi.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















