- 27 Jul 2020
- 3 menit membaca
Diperbarui: 21 Feb
PERTEMPURAN di pinggir Kali Citarum itu berlangsung selama dua hari dua malam. Masing-masing pihak saling bergantian melakukan serbuan. Tak jarang pertempuran harus diakhiri dengan perkelahian brutal jarak dekat menggunakan bayonet, klewang dan golok. Korban pun berjatuhan, baik dari pihak Tentara Repoeblik Indonesia (TRI) maupun dari pihak Lasjkar Rakjat (LR).
“Orang-orang LR itu memang pandai silat. Mereka rata-rata adalah jawara atau jago di era sebelum Jepang berkuasa,” ujar Endin (93), eks prajurit dari Batalyon Beruang Merah.
Karena kalah taktik dan kurang menguasai medan, pasukan gabungan TRI sempat dipukul mundur dari wilayah Lamaran . Kekalahan TRI itu, otomatis menjadikan gerak LR semakin melaju ke arah kota Karawang, di mana satu unit pasukan anak buah Sutan Akbar itu tengah dikepung oleh pasukan Siliwangi pimpinan Kapten Lukas Koestarjo.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.












