top of page

Merangkai Sejarah Bahasa Bunga

Karangan bunga bukan sekadar dekorasi. Tiap bunga memiliki makna, mulai dari tanda cinta hingga peringatan yang mendorong munculnya floriografi atau bahasa bunga.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Penampakan karangan bunga bergaya Biedermeier. (Wikimedia Commons).

  • 1 jam yang lalu
  • 4 menit membaca

SUDAH sejak lama bunga menjadi media untuk mengekspresikan perasaan atau gagasan. Kebiasaan ini memicu lahirnya floriografi atau bahasa bunga, yang digunakan masyarakat Inggris dan Amerika Serikat pada abad ke-19 sebagai metode komunikasi rahasia. Popularitas floriografi berkaitan erat dengan kehidupan masyarakat era Victoria yang menjunjung tinggi norma sosial dan membatasi ekspresi emosi yang terbuka dan mencolok.


Menurut Jessica Roux dalam Floriography: An Illustrated Guide to the Victorian Language of Flowers, floriografi pertama kali muncul pada 1819 melalui karya Charlotte de la Tour berjudul Le Langage des Fleurs. Buku tentang “bahasa” berkode ini digunakan secara luas sepanjang abad ke-19 baik di Inggris maupun Amerika Serikat, yang kemudian menjadi identik dengan tradisi dan budaya era Victoria.


“Makna bunga diambil dari sastra, mitologi, legenda abad pertengahan, dan bahkan bentuk bunga itu sendiri. Seringkali penjual bunga menciptakan simbolisme untuk menemani bunga-bunga baru dalam koleksi mereka, dan kadang-kadang, makna bunga berbeda tergantung pada lokasi dan waktu,” tulis Roux.


Dalam konteks budaya Victoria, bunga dan kelompok bunga memperoleh makna yang beragam seperti budaya tempat mereka muncul. Dalam konteks floriografi, bunga dipandang sebagai lambang pikiran dan perasaan​. Kelas menengah Victoria sangat menikmati menghidupkan kembali bahasa bunga.


Tren ini berpusat pada kelas menengah yang besar dan mengalami pertumbuhan signifikan di Britania Raya, Prancis, dan Amerika Serikat, yang didorong oleh Revolusi Industri. Para wanita di rumah tangga ini memiliki pelayan dan waktu luang, tetapi sedikit kesempatan untuk berkarier. Sesuai dengan cita-cita Victoria, kebun bunga dan hortikultura dipandang sebagai hobi yang konstruktif. Bunga tidak hanya dihias dan dirangkai untuk dekorasi interior, tetapi juga menjadi media untuk menyampaikan pemikiran dan opini para perempuan berpendidikan tentang isu-isu moral, kebajikan, dan kritik sosial.


Kaum terpelajar mempelajari bahasa bunga untuk bertukar pesan tanpa menggunakan kata-kata. Hal ini menguntungkan bagi mereka yang terbatas oleh latar belakang pendidikan dan konvensi sosial borjuis. Selain itu, bahasa bunga dianggap terhormat, dan memberikan status kehormatan bagi mereka yang menguasainya. Kemahiran dalam floriografi dianggap sebagai pencapaian sosial yang prestisius, yang mengungkapkan kecerdasan feminin seorang wanita dan kebajikan seorang pria.


Michael Waters menulis dalam The Garden in Victorian Literature, popularitas bahasa bunga sebagian besar berasal dari dorongan untuk melarikan diri dari dekadensi kehidupan perkotaan dan kebosanan rutinitas sosial yang monoton. Hal ini terkait dengan penggunaan bunga untuk dekorasi, hiasan, dan penghiburan, serta ratusan puisi bunga yang penuh perasaan yang tersebar di majalah-majalah populer.


Di lain pihak, floriografi yang bersifat simbolis dipandang sebagai ekspresi untuk menemukan makna yang lebih dalam dari tumbuhan. Antusiasme terhadap bahasa bunga itu merupakan ekspresi dari dorongan untuk menghidupkan kembali gambaran dunia yang simbolis.


“Pandangan ini menyatakan bahwa setiap objek di alam pasti memiliki keterkaitan tersembunyi dengan setiap objek lain di alam, karena semua objek merupakan bagian dari korespondensi vertikal antara alam dan Tuhan,” tulis Waters.


Meski identik dengan masyarakat Victoria, floriografi memiliki sejarah yang panjang. Selama ribuan tahun, orang-orang telah melekatkan makna pada bunga-bunga yang tumbuh di sekitarnya. Makna-makna tersebut sering kali berbeda dari satu budaya dengan budaya lain.


Menurut Sally Coulthard dalam Floriography: The Myths, Magic & Language of Flowers, sebuah bunga dikaitkan dengan sifat manusia karena cara tumbuhnya, misalnya bunga yang tumbuh melilit dan merapat ke tanaman lain sering dikaitkan dengan sifat lengket atau gairah yang intens. Sedangkan bunga pemalu, seperti violet yang mekar sebentar, dikaitkan dengan gagasan tentang rasa malu atau kematian tak terduga.


Antusiasme orang-orang Victoria terhadap bahasa bunga terlihat dalam sastra. Para penulis berasumsi bahwa pembaca terpelajar memiliki pengetahuan tentang hal tersebut. Tanpa pemahaman ini, pembaca modern menganggap pemilihan nama tanaman dalam puisi dan novel era Victoria bersifat acak atau sekadar subjektif.


“Tanpa terikat oleh batasan kaku alfabet bunga, nama-nama tumbuhan dapat digunakan untuk melambangkan nilai-nilai moral, status sosial, dan identitas kelompok sosial, suatu keuntungan yang tidak kecil bagi mereka yang berkecimpung dalam pemetaan lanskap budaya. Hal ini mencakup para penulis imajinatif era Victoria, yang berperan penting dalam mediasi, konstruksi, dan negosiasi kode-kode bunga,” tulis Waters.


Makna bunga biasa berasal dari penampilan tanaman atau turunan dari nama Latin yang berakar dari mitologi, dan ada pula yang terinspirasi oleh norma-norma budaya Victoria. Misalnya, Amaryllis yang batangnya megah dan di atasnya terdapat bunga-bunga cerah yang menjulang tinggi. Tanaman ini merepresentasikan kebanggaan atau ketangguhan karena tidak mudah layu di bawah kondisi yang keras.


Sedangkan makna bunga camelia berkaitan dengan karya sastra era Victoria yang menggambarkan moralitas dan nilai-nilai sosial yang diusung masyarakat. Menurut Roux, makna camelia berasal dari novel Alexandre Dumas, La Dame Aux Camelias (1848), yang menceritakan kisah cinta tragis karakternya, yaitu pria borjuis Armand Duval dan pelacur kelas atas Marguerite Gautier. Keduanya jatuh cinta tetapi tak direstui oleh ayah Armand.


Khawatir skandal akan menimpa Armand, ayahnya meyakinkan Marguerite untuk meninggalkan putranya. Armand berduka atas kepergian kekasihnya, tetapi dia tidak mengejarnya karena mengira Marguerite meninggalkannya demi pria lain. Marguerite jatuh sakit karena tuberkulosis. Dia meninggal dan merindukan Armand. Itu sebabnya bunga camelia menjadi representasi untuk menyatakan kerinduan terhadap seseorang.


Makna bunga yang berkaitan dengan mitologi Yunani misalnya hyacinth. Dikisahkan, seorang pemuda tampan bernama Hyacinthus sangat disayangi oleh Apollo, dewa terpenting dalam mitologi Yunani dan Romawi, sebagai dewa cahaya, musik, puisi, pemanah, pengobatan, dan ramalan. Dalam sebuah pertandingan lempar cakram, cakram milik Apollo terlempar dari jalurnya hingga menghantam Hyancinthus dan membunuhnya. Peristiwa itu terjadi akibat campur tangan Zephyrus yang cemburu.


“Bunga hyacinth konon tumbuh dari darah yang mengalir dari luka di kepala pemuda tersebut saat Apollo memohon maaf kepadanya. Rangkai hyacinth dengan bunga zaitun untuk memohon perdamaian dan pengampunan. Atau padukan dengan pansy untuk menunjukkan bahwa pengkhianatanmu terus menghantui dirimu,” tulis Roux.


Floriografi yang menarik minat orang Victoria menjadi tren yang menyebar luas, khususnya di antara wanita kalangan menengah atas. Mereka mengirimkan karangan bunga sebagai tanda cinta atau peringatan. Mawar paling populer karena bunga ini melambangkan ekspresi cinta.


Bagi orang Victoria, warna mawar menunjukkan tingkat kasih sayang: mawar putih melambangkan cinta yang murni, mawar merah muda melambangkan romansa yang mulai berkembang, dan mawar merah tua melambangkan gairah. Bunga ini dirangkai dengan tanaman lain seperti baby’s breath untuk perayaan pernikahan, atau cornflower untuk harapan dalam hubungan romantis yang baru.


Perempuan era Victoria juga mengenakan bunga di rambut atau gaun, serta merayakan segala hal yang berhubungan dengan bunga. Di antaranya membuat rangkaian bunga kecil yang disebut tussie-mussies atau nosegays, dengan menggabungkan beberapa kuntum bunga dalam buket kecil. Dipakai atau dibawa sebagai aksesori, pesan-pesan tersembunyi tentang kasih sayang, hasrat, atau kesedihan memungkinkan orang Victoria untuk menunjukkan perasaan mereka dalam tampilan yang misterius dan memikat.*

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Setelah diculik pengikut Tan Malaka, Sutan Sjahrir bikin perhitungan dengan penangkapan berantai. Adam Malik protes, Sayuti Melik pasrah digelandang ke bui.
bg-gray.jpg
Perdana Menteri Sutan Sjahrir diculik pengikut Tan Malaka, Presiden Sukarno minta Sjahrir dikembalikan.
bg-gray.jpg
Pengikut Tan Malaka menculik Sutan Sjahrir karena dianggap pengkhianat yang menjual tanah air kepada Belanda. Sukarno-Hatta memerintahkan untuk membebaskannya.
bg-gray.jpg
Identified with the god Vishnu and revered as the standard-bearer of all kings, the genealogy and depictions of Purnawarman can be traced in various Tarumanagara inscriptions.
Karangan bunga bukan sekadar dekorasi. Tiap bunga memiliki makna, mulai dari tanda cinta hingga peringatan yang mendorong munculnya floriografi atau bahasa bunga.
Karangan bunga bukan sekadar dekorasi. Tiap bunga memiliki makna, mulai dari tanda cinta hingga peringatan yang mendorong munculnya floriografi atau bahasa bunga.
For Indonesia reconciliation is a necessity, yet it will not be easy to achieve.
For Indonesia reconciliation is a necessity, yet it will not be easy to achieve.
Kartini adalah sang pemula dari proses revolusi nasional.
Kartini adalah sang pemula dari proses revolusi nasional.
Survei SMRC menunjukan mayoritas warga tidak percaya akan kebangkitan PKI. Dimanfaatkan kelompok tertentu demi tujuan politik.
Survei SMRC menunjukan mayoritas warga tidak percaya akan kebangkitan PKI. Dimanfaatkan kelompok tertentu demi tujuan politik.
Dari setiap pemberontakan orang-orang tertindas, lahir perubahan di dalam sejarah. Kepada mereka kita patut menaruh hormat.
Dari setiap pemberontakan orang-orang tertindas, lahir perubahan di dalam sejarah. Kepada mereka kita patut menaruh hormat.
transparant.png
bottom of page