- 17 Jul
- 4 menit membaca
SUDAH sejak lama bunga menjadi media untuk mengekspresikan perasaan atau gagasan. Kebiasaan ini memicu lahirnya floriografi atau bahasa bunga, yang digunakan masyarakat Inggris dan Amerika Serikat pada abad ke-19 sebagai metode komunikasi rahasia. Popularitas floriografi berkaitan erat dengan kehidupan masyarakat era Victoria yang menjunjung tinggi norma sosial dan membatasi ekspresi emosi yang terbuka dan mencolok.
Menurut Jessica Roux dalam Floriography: An Illustrated Guide to the Victorian Language of Flowers, floriografi pertama kali muncul pada 1819 melalui karya Charlotte de la Tour berjudul Le Langage des Fleurs. Buku tentang “bahasa” berkode ini digunakan secara luas sepanjang abad ke-19 baik di Inggris maupun Amerika Serikat, yang kemudian menjadi identik dengan tradisi dan budaya era Victoria.
“Makna bunga diambil dari sastra, mitologi, legenda abad pertengahan, dan bahkan bentuk bunga itu sendiri. Seringkali penjual bunga menciptakan simbolisme untuk menemani bunga-bunga baru dalam koleksi mereka, dan kadang-kadang, makna bunga berbeda tergantung pada lokasi dan waktu,” tulis Roux.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















