- 1 jam yang lalu
- 3 menit membaca
KENDATI namanya sudah tinggal sejarah, Ali Sadikin selalu dikenang penuh hormat oleh warga Jakarta. Sejumlah karya monumental dan warisan kebijakannya masih dapat dinikmati sampai hari ini. Selama menjabat gubernur DKI Jakarta periode 1966–1977, Ali Sadikin tidak hanya berperan dalam membangun Jakarta secara fisik dari kampung besar nan kumuh menjadi ibu kota modern. Namun, dia juga memberi napas bagi pengembangan seni dan kebudayaan di Jakarta.
“Kalau kita melihat perjalanan panjang Bang Ali dalam waktu 10 tahun pemerintahannya, banyak karya yang beliau tinggalkan, termasuk Taman Ismail Marzuki. Termasuk kemudian yang selalu dikenang adalah bagaimana pada waktu itu beliau memutuskan untuk mengubah rawa-rawa di pesisir utara Jakarta menjadi Taman Impian Jaya Ancol yang sekarang ini legasinya masih dirasakan oleh kita semua,” kata Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung dalam pembukaan “Peringatan 100 Tahun Ali Sadikin” di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat, 7 Juli 2026.
Ali Sadikin, lanjut Pramono, juga memperhatikan hiburan bagi warga Jakarta segala kalangan. Salah satu legasinya adalah pembangunan Kebun Binatang Ragunan di bilangan Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Ketika diresmikan pada 1966, Ali Sadikin berperan memprakarsai pemindahan kebun binatang di kawasan Cikini yang sudah mulai padat penduduk, ke Ragunan.

Sampai saat ini, Kebun Binatang Ragunan menjadi destinasi wisata unggulan Jakarta. Tidak hanya bagi warga Jakarta, tapi bagi pendatang yang berkunjung ke Jakarta, tak sah rasanya bila tak piknik ke Kebun Binatang Ragunan. Namun, karya Ali Sadikin yang paling utama, menurut Pram, adalah yang berkaitan dengan seni.
“Salah satunya adalah tempat ini (TIM), yang mungkin siapapun gubernur yang ada di Jakarta ini, pasti tidak mungkin tidak melanjutkan apa yang telah diwariskan oleh Bang Ali,” demikian pungkas Pramono.
Ketika baru menjabat gubernur DKI Jakarta, menurut kurator pameran Ganda Swarna, Ali Sadikin sudah terpikir untuk membangun Pusat Kesenian Jakarta. Untuk itu, dia lebih dulu menginisiasi tiga lembaga kebudayaan yang saling menopang.
Pertama, Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) untuk memetakan program dan arah kebudayaan Jakarta. Kemudian, Akademi Jakarta sebagai pengawas DKJ. Dan yang terakhir, Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta yang sekarang menjadi Institut Kesenian Jakarta (IKJ).

“Ini cikal bakalnya. Jadi pembuat program, pengawas, dan pengembangan seninya jadi satu tempat. Setelah itu barulah dibuat Pusat Kesenian Jakarta sebagai satu organisasi yang berkelanjutan dan berkesinambungan, dan terkoneksi satu dengan yang lain,” terang Ganda kepada Historia.ID.
Di masa Ali Sadikin, TIM dibangun sebagai ruang kebebasan berekspresi bagi para seniman. Ketika TIM diresmikan pada 1968, suasana zaman masih diliputi ketegangan, termasuk di kalangan seniman, sebagai imbas pergolakan politik. Seniman di Jakarta takut berkumpul dan berkesenian. Belum lagi persoalan pecahnya dua kubu seniman antara kelompok Manifestasi Kebudayaan (Manikebu) kontra Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra).
“Lekra turun, Manikebu naik. Tapi kan masih tetap ada dalam gejolak politik yang mengerikan. Ali Sadikin juga salah satunya punya kesadaran bahwa seniman boleh berkumpul, tapi di sini (TIM). Ali Sadikin yang jagain,” kata Ganda.

Selain memuat arsip-arsip resmi terkait kebijakan Gubernur Ali Sadikin, pameran arsip dan foto 100 tahun Ali Sadikin juga menampilkan tulisan tangan catatan Ali Sadikin. Ali Sadikin termasuk gubernur yang sangat suka menulis. Dia mencatat sendiri rencana besar, pencapaian, dan apa yang dia lakukan untuk Jakarta. Catatan itu terbukukan dalam Gita Jaya: Catatan H. Ali Sadikin Gubernur Kepala Daerah Khusus Ibukota Jakarta 1966–1977.
Menurut Ganda, penting untuk melihat kembali Ali Sadikin, tidak hanya sebagai tokoh yang membuat Jakarta maju pesat pada era kepemimpinannya. Di balik itu, Ali Sadikin punya ide-ide yang berani untuk membuat kebijakan, termasuk berani oposisi dengan keinginan pemerintah pusat. Ide dan gagasan Ali Sadikin perlu untuk dilihat lagi oleh pemangku kebijakan, maupun seniman untuk membaca situasi zaman sekarang.
“TIM ini bisa dilihat lebih jauh sebenarnya. Untuk membayangkan, bagaimana sebenarnya dulu kekuasaan memberi kebebasan yang lepas untuk orang berekspresi. Yang sekarang ini mungkin situasi kita kan lagi remiliterisasi. Itu yang bikin kita sulit. [Dalam situasi] itu kayaknya kita butuh [Ali Sadikin] ketika setiap orang atau kekuasaan memberikan hak bagi warga negara untuk kebebasan berekspresi,” tutup Ganda.*



















Komentar