- 8 Sep 2025
- 3 menit membaca
Diperbarui: 17 Mei
SAMPAI hari ini, kematian aktivis kemanusiaan Munir Said Thalib masih berselubung kabut misteri. Pada dekade 1990-an, Munir dikenal lantang menyuarakan keadilan bagi korban kekerasan dan pelanggaran hak asasi manusia rezim Orde Baru lewat lembaga swadaya KontraS (Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan). Nyawa Munir dilenyapkan ketika ia hendak mengurusi studi doktoralnya dalam penerbangan dari Jakarta menuju Amsterdam pada 7 September 2004.
Kematian Munir dirancang secara sengaja dengan cara meracuninya lewat minuman yang dikonsumsi dalam perjalanan. Simpulan ini diperkuat hasil otopsi yang menemukan kandungan racun jenis arsenik pada tubuh Munir. Ketika kasus kematian Munir dibawa ke ranah hukum, pengadilan mendakwa Pollycarpus Budihari Priyanto, pilot maskapai Garuda Indonesia, sebagai pelaku utama dengan hukuman 14 tahun penjara.
Munir dan Pollycarpus yang sedang cuti diketahui berada dalam satu penerbangan ke Belanda dan sempat bercengkrama di sebuah kafe saat transit di Bandara Changi, Singapura. Pada saat itulah Pollycarpus diduga menuangkan racun ke dalam minuman Munir. Belakangan, Pollycarpus disebut-sebut sebagai agen intelijen atau setidaknya punya hubungan dengan seorang petinggi Badan Intelijen Negara (BIN) yang menyimpulkan perannya sebagai kaki tangan pihak yang lebih tinggi.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















