top of page

Menolak Melupakan Munir

Satu dekade kepergian Munir. Kasusnya diselubungi misteri karena ketidaksungguhan pemerintah. Namun, publik tetap menolak lupa.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Seorang seniman sedang menggambar Munir dalam peringatan 10 tahun pembunuhan aktivis HAM Munir, di Jakarta, 7 September 2014. Foto: Micha Rainer Paliaci Historia, 2014.

  • 7 Sep 2014
  • 2 menit membaca

HARI masih pagi. Orang-orang tumpah ruah di jalan Sudirman-Thamrin Jakarta Pusat yang bebas kendaraan (car free day). Mereka berolahraga, bersantai, dan sejenak melupakan masalahnya. Namun, tidak bagi sekelompok orang. Mereka tidak ingin masyarakat melupakan peristiwa terbunuhnya pahlawan kemanusiaan, Munir Said Thalib dan ketidakjelasan penanganan kasusnya.


Dalam rangka memperingati 10 tahun pembunuhan Munir, mereka yang tergabung dalam Komite Aksi Solidaritas Munir (Kasum) dan Sahabat Munir mengadakan acara artwork di ruang publik, tepatnya di dekat Halte Tosari selama car free day pada 7 September 2014.


Acara diisi dengan pertunjukkan seni, pembuatan mural, orasi, sampai permainan untuk mengedukasi publik tentang sosok Munir dan kasus pembunuhannya. Mereka mengajak masyarakat menolak lupa terhadap sosok Munir.


“Kampanye ini juga untuk memperingatkan pemerintah khususnya pemerintahan yang baru, yaitu Jokowi-JK agar memprioritaskan agenda penyelesaian kasus ini,” tutur Chris Biantoro, wakil koordinator Komisi Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS).


Sebagai sosok terdepan dalam penegakan hak asasi manusia (HAM) di Indonesia, selama hidupnya Munir banyak mengurus kasus-kasus hilangnya aktivis. Dia juga menjadi salah satu pendiri dua organisasi penegakan HAM, yakni KontraS dan Imparsial, yang berjasa dalam mengungkap kasus-kasus pelanggaran HAM selama operasi militer Indonesia di Aceh, Papua dan Timor Timur.


Pada hari ini, tepat 10 tahun lalu. Munir berangkat ke Belanda dengan pesawat Garuda nomor penerbangan GA 974 untuk melanjutkan pendidikan pascasarjananya dalam bidang hukum internasional dan HAM. Namun, dia ditemukan tewas diracun di dalam pesawat saat dalam perjalanan.


Belakangan diketahui pelakunya adalah bekas pilot Garuda, Pollycarpus Budihari Priyanto yang divonis hukuman 14 tahun penjara pada Desember 2005. Namun, publik masih belum puas karena otak di balik pembunuhan ini masih belum terungkap.


“Di masa awal pemerintahannya, Susilo Bambang Yudhoyono berjanji untuk menyelesaikan kasus Munir dan bahkan menyatakan bahwa hal tersebut akan menjadi ‘ujian bagi sejarah kita’,” ujar Choirul Anam dari Kasum seperti dikutip dari thejakartaglobe.com (5/9/2014). “Namun, pada akhirnya pemerintah tidak pernah serius menghukum pelaku yang bersalah, menjadikan kasus pembunuhan ini makin diselubungi misteri.”


Tidak hanya di Jakarta, aksi solidaritas untuk Munir juga dilakukan di Bandung, Semarang, Yogyakarta, dan Solo. Di Malang, rumah masa kecil Munir yang sekarang dikenal sebagai Omah Munir dan Museum Keadilan dan HAM, pun terpantau ramai.


Semuanya bersuara satu tanpa rasa takut, menuntut kejelasan dan ketegasan pemerintah untuk menyelesaikan kasus Munir. Seperti pernah dikatakan oleh Munir sendiri: “Kita harus lebih takut kepada rasa takut itu sendiri, karena rasa takut menghilangkan rasio dan kecerdasan kita.”

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Anak muda putus sekolah dan menganggur menjadi problem di banyak daerah di Indonesia. Di Jombang, sebuah kota kecil di Jawa Timur, mereka diberikan keterampilan praktis dan praktik lapangan lalu dikirim ke Lampung dalam program Transmigrasi Pramuka.
bg-gray.jpg
The United States’ hydrogen bomb tests in the Eniwetok Atoll in the Pacific alarmed a member of the Indonesian House of Representatives, who urged the government to mobilize opposition on the international stage.
bg-gray.jpg
Jenderal Soedirman mendukung Persatuan Perjuangan yang digagas Tan Malaka. Namun, dia kemudian meninggalkan kawan sehaluan setelah terjadi peristiwa kudeta 3 Juli 1946.
bg-gray.jpg
Setelah Sutan Sjahrir dibebaskan, para pengikut Tan Malaka menyodorkan konsepsi untuk disetujui Sukarno. Hatta menyadari sedang terjadi kudeta.
A deep and balanced understanding about the events in 1959-1969 is required to achieve reconciliation.
A deep and balanced understanding about the events in 1959-1969 is required to achieve reconciliation.
Trofi Piala Eropa tak hanya bisa direbut dengan strategi dan skuad mumpuni, tapi juga keberuntungan. Italia pernah mengalaminya.
Trofi Piala Eropa tak hanya bisa direbut dengan strategi dan skuad mumpuni, tapi juga keberuntungan. Italia pernah mengalaminya.
Tak ingin Indonesia mendominasi, Negeri Jiran menempuh jalan curang. Terbongkar oleh salah satu wasitnya.
Tak ingin Indonesia mendominasi, Negeri Jiran menempuh jalan curang. Terbongkar oleh salah satu wasitnya.
Brompton bukan sepeda lipat pertama di dunia. Tapi mengapa ia begitu terkenal?
Brompton bukan sepeda lipat pertama di dunia. Tapi mengapa ia begitu terkenal?
Usai tak lagi merumput, 11 bintang sepakbola ini terjun ke dunia politik. Ada yang sukses, ada pula yang kurang moncer.
Usai tak lagi merumput, 11 bintang sepakbola ini terjun ke dunia politik. Ada yang sukses, ada pula yang kurang moncer.
Bak kanker kronis, rasisme tetap tumbuh di lapangan hijau. Mencoreng keindahan sepakbola.
Bak kanker kronis, rasisme tetap tumbuh di lapangan hijau. Mencoreng keindahan sepakbola.
transparant.png
bottom of page