top of page

Otak vs Otot

Ilmu pengetahuan tentu tidak akan pernah berkembang dalam suasana penuh penindasan terhadap kebebasan berpikir.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Ilustrasi: Adhitya Maheswara/Historia.ID.

3 Sep 2012
2 menit membaca

Diperbarui: 24 Jul 2025

BAGI anak muda, bisa jadi sejarah memang membosankan. Apalagi jika diajarkan dalam bentuk hafalan: soal angka tahun dan nama-nama. Jadi neraka ketika ujian. Hasilnya tak sesuai tujuan. Padahal esensi belajar sejarah adalah pemahaman yang mendalam dan menyeluruh atas sebuah peristiwa: tentang latar belakang peristiwa, aktor di baliknya, sebab-musabab dan akhir peristiwa, serta apa pengaruhnya bagi hidup kita di masa kini.


Pelajaran sejarah, khususnya tentang peristiwa-peristiwa kontroversial yang masih sensitif, diajarkan secara sepihak. Didesain sebisa mungkin supaya siswa menerima satu versi resmi yang telah disusun oleh para pembuat kebijakan kurikulum pelajaran sekolah. “Versi resmi” jauh lebih punya muatan politis ketimbang akademis.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
bg-gray.jpg
Semaoen membawa Sarekat Islam cabang Semarang ke arah radikal. Pecah kongsi dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Semaoen membentuk Sarekat Islam Merah.
bg-gray.jpg
Semaoen dikenal sebagai wartawan yang tajam mengkritik pengusaha kapitalis dan pemerintah kolonial. Akibatnya, dia dipenjara karena delik pers. Selama ditahan, dia menulis Hikajat Kadiroen.
transparant.png
bottom of page