top of page

Penyesalan Seumur Hidup Jenderal Mashudi

Akibat terlalu konvensional memperlakukan senjata rampasan dari Jepang, pemuda Bandung harus kembali kehilangan senjata.

loading_historia_white.gif
transparant.png
  • 23 Jun 2019
  • 2 menit membaca

SETELAH memastikan kabar menyerahnya Jepang, rakyat Bandung segera membentuk barisan pengamanan kota. Dimotori pemuda-pemdua Bandung, mereka menyusuri jalan-jalan  yang biasa tentara Jepang berkumpul di sana. Kendati awalnya merasa ragu dan takut, rakyat akhirnya memberanikan diri untuk melucuti persenjataan tentara Jepang. Mereka menguasai tempat-tempat penting milik Jepang, terutama gudang senjata, agar tidak lagi muncul perlawanan.


Menjelang akhir September 1945, pasukan-pasukan rakyat telah mengamankan seluruh areal militer penting di Bandung. Para pejuang bersorak ria dengan keberhasilan menyingkirkan kekuasaan Jepang di kotanya.


“Para pemuda mulai bertindak mengusir pegawai-pegawai Jepang dengan kekerasan. Pemimpin bangsa kita yang lemah, disingkirkan untuk sementara,” tulis A.H. Nasution dalam Sekitar Perang Kemerdekaan Jilid II.


Namun sayang walau banyak gudang senjata diamankan, tidak semua pejuang tahu cara memakai senjata. Hanya satu regu pimpinan Sukanda yang mengerti banyak senjata, itupun tidak semua jenis. Sisanya hanya bermodal semangat, dan bambu runcing saja.


Pada Oktober 1945, berbekal instruksi pemimpin Sekutu, tentara Jepang mulai melancarkan serangan balik. Tanpa diduga mereka telah menyiapkan kekuatan untuk melumpuhkan pergerakan para pejuang Bandung. Gudang senjata yang telah diduduki pun akhirnya dapat direbut kembali pihak Jepang. Perlawanan-perlawanan dari rakyat tidak berarti banyak karena tentara dengan cepat dapat menumpasnya.


“Seperti biasa, massa yang mudah dan cepat bangkit, mudah dan cepat pula terdesak dan terpecah belah,” tulis Nasution.


Achmad Tirtosudiro, dalam biografinya Jenderal dari Pesantren Legok, mengenang peristiwa pelucutan senjata itu sebagai peristiwa yang amat disesali Letnan Jenderal TNI (Purn.) Mashudi, mantan Gubernur Jawa Barat (1960-1970), seumur hidup.


Mashudi, yang saat itu menjadi salah satu pemimpin rakyat, menyuruh agar para pemuda tetap menyimpan senjata di dalam gudang. Mereka harus mempelajari terlebih dahulu cara memakainya agar tidak keliru. Tetapi instruksinya itu malah menjadi bumerang bagi para pejuang.


“Kepintaran saya merupakan ketololan saya waktu itu. Coba jangan memakai pertimbangan rasional, harus berlatih segala. Pakai saja otot nekad. Boyong dulu, penguasaan belakangan, seperti dilakukan rekan-rekan lain di banyak tempat di seantero Indonesia,” ucap Mashudi kepada Achmad.


Karena persitiwa itu, para pemuda Bandung mendapat julukan Pemuda Peuyeum. Peuyeum sendiri merupakan makanan khas Jawa Barat, berbahan dasar singkong yang difermentasi. Konotasinya berarti para pemuda itu memiliki sifat yang lembek, penakut, dan pengecut.


Julukan itu terus melekat. Achmad Tirtosudiro bahkan merasakan langsung dampaknya. Saat sedang berkunjung ke Surabaya untuk urusan Djawatan Kereta Api, bukan saja mendapat sambutan yang kurang hangat dari masyarakat, keselamatan dirinya pun ikut terancam.


“Ini ada pemuda peuyeum dari Bandung. Kita potong saja!” kenang Achmad menirukan ucapan orang-orang Surabaya.


Walau yakin hanya candaan, tetapi Achmad melihat hal itu sebagai bentuk kekecewaan para pejuang Surabaya terhadap kegagalan pejuang Bandung mempertahankan daerahnya.

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
According to the Wangsakerta Manuscript, Tarumanagara was founded by refugees from India.
bg-gray.jpg
Prasasti Tugu turut meriwayatkan Kali Bekasi dan Kali Cakung Lama. Satu dari tujuh prasasti penting warisan Tarumanagara.
bg-gray.jpg
This is a story of a watch repairman who contributed to Christianization in Surabaya, Indonesia. He wanted Javanese Christians to be like the Dutch.
bg-gray.jpg
Jambi termasuk daerah sulit direbut pasukan payung dan Gadjah Merah Belanda. Diprioritaskan untuk direbut karena menjadi penghasil minyak buat Indonesia.
Awalnya penyakit mematikan ini sulit diobati. Berkat penemuan insulin, diabetes tak lagi menjadi momok.
Awalnya penyakit mematikan ini sulit diobati. Berkat penemuan insulin, diabetes tak lagi menjadi momok.
Perwira Jepang yang memimpin perebutan Lanud Kalijati dan Bandung ini divonis hukuman mati karena pembantaian di Ciater.
Perwira Jepang yang memimpin perebutan Lanud Kalijati dan Bandung ini divonis hukuman mati karena pembantaian di Ciater.
Orang-orang Tionghoa di Tangerang menjadi sasaran amuk massa di masa revolusi. Seorang ahli bela diri diselamatkan karena dikenal dermawan.
Orang-orang Tionghoa di Tangerang menjadi sasaran amuk massa di masa revolusi. Seorang ahli bela diri diselamatkan karena dikenal dermawan.
Diplomat perempuan pertama di Indonesia. Menurut Presiden Sukarno, ia tak hanya mewakili negara tetapi juga seluruh perempuan Indonesia.
Diplomat perempuan pertama di Indonesia. Menurut Presiden Sukarno, ia tak hanya mewakili negara tetapi juga seluruh perempuan Indonesia.
Sebuah surat kabar memberitakan seseorang mirip Hitler memesan sosis yang memicu rumor bahwa pemimpin Nazi itu memiliki doppelgänger atau sosok pengganti.
Sebuah surat kabar memberitakan seseorang mirip Hitler memesan sosis yang memicu rumor bahwa pemimpin Nazi itu memiliki doppelgänger atau sosok pengganti.
Dari Tokyo Rose hingga Hanoi Hannah, semua melancarkan propaganda via radio. Kini akun-akun media sosial Kedutaan Iran ikut nge-troll militer AS.
Dari Tokyo Rose hingga Hanoi Hannah, semua melancarkan propaganda via radio. Kini akun-akun media sosial Kedutaan Iran ikut nge-troll militer AS.
transparant.png
bottom of page