Diperbarui: 4 hari yang lalu
BEGITU Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) keluar pada 1966, Soeharto naik ke tampuk pimpinan nasional. Sukarno terpaksa berbagi kekuasaan. Melalui surat itu, Sukarno mengalihkan kekuasaanya kepada Soeharto. Tapi Soeharto merasa perlu meyakinkan rakyat agar dia punya legitimasi. Sehari setelah keluarnya Supersemar, Soeharto bilang, “Suara hati nurani rakyat sungguh-sungguh telah dilihat, didengar oleh Pemimpin Besar Revolusi, Bung Karno.”
Tak mau buang waktu, Soeharto lantas menggunakan kekuasaan yang baru diterimanya. Sesuai tuntutan rakyat kebanyakan, Soeharto merombak kabinet pada 25 Juli 1966 bersama Sukarno. Meski menjabat Ketua Presidium Kabinet Ampera, Soeharto tak langsung memimpin kabinet ini. Lagipula Sukarno masih resmi menjabat presiden.
Dualisme ini bikin masalah. Sukarno kerap memanggil para menteri ketika sore tiba. Padahal, paginya mereka sudah dipanggil Soeharto. Ini membingungkan Soeharto. “Pak Harto tidak dapat menegur Bung Karno karena beliau masih resmi sebagai Presiden,” tulis Alamsjah Ratu Perwiranegara, salah seorang penasihat dan orang kepercayaan Soeharto, dalam Perjalanan Hidup Seorang Anak Yatim Piatu.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















