top of page

Perang Westerling di Timur Jauh

Kaya dengan adegan-adegan kekerasan, De Oost tidak mampu menarik diri dari kisah klise tentang petualangan militer Belanda di Indonesia.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Film De Oost. (imdb.com).

17 Mei 2021
3 menit membaca

Diperbarui: 22 Feb

KAPTEN R.P.P. Westerling kembali bangkit dari kubur. Kali ini komandan DST (Depot Pasukan Khusus) Belanda paling legendaris itu dimunculkan oleh sutradara berdarah Maluku Jim Taihuttu dalam De Oost. Itu nama drama perang bertajuk petualangan militer Belanda di Indonesia, salah satu tanah jajahannya di Timur Jauh.


Begitu dirilis empat hari yang lalu, De Oost langsung menuai kecaman beruntun dari para veteran Belanda dan keluarganya. Salah satu dari mereka adalah Palmyra Westerling, salah satu putri dari Raymond Westerling. Dalam surat terbuka yang beberapa hari ini beredar di media sosial, Palmyra menyerukan khalayak Belanda untuk memboikot peredaran film tersebut.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
transparant.png
bottom of page