top of page

Perantau Tangguh yang Menaklukkan Batavia

Trijntje meninggalkan Belanda untuk mencoba peruntungan di Batavia. Ia menjelma menjadi seorang pengusaha wanita yang gigih dan tak mudah menyerah, meski cobaan silih berganti menerpanya.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Pemandangan kota Batavia yang menampilkan kanal Tijgersgracht karya Johan Nieuhoff. (Koninklijke Bibliotheek Den Haag/geheugen.delpher.nl).

2 Okt 2024
5 menit membaca

Diperbarui: 15 Jan

TRIJNTJE tak tahu di mana letak pasti Batavia, kota yang didirikan Gubernur Jendral VOC Jan Pieterszoon Coen pada tahun 1619. Yang ia tahu, kota yang berada jauh dari Belanda dan hanya dapat dijangkau melalui pelayaran selama berbulan-bulan itu menawarkan sebuah kesempatan untuk memiliki hidup yang lebih baik. Seperti halnya orang-orang Eropa lain yang mendaftarkan diri untuk menjadi pegawai VOC di wilayah koloni, mimpi untuk mengubah nasib itulah yang membuat Trijntje nekat mencari peruntungan di Batavia.


Tak banyak informasi yang bisa didapat mengenai kehidupan Trijntje di Belanda. Namun, Herald Van der Linde mencatat dalam Jakarta: History of a Misunderstood City bahwa wanita yang berasal dari Amersfoort itu berlayar menuju Batavia dari Texel dengan menumpangi kapal Walcheren pada akhir tahun 1621. Setelah mengarungi lautan selama kurang lebih lima bulan, kapal yang ditumpangi Trijntje tiba di Batavia pada 27 Mei 1622. Di kota yang belum lama didirikan oleh Coen itulah ia memulai hidup barunya dan harapan untuk memiliki hidup yang lebih beruntung mulai terbuka ketika wanita muda itu berkenalan dengan Floris Hendricksz.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Dibuang ke Belanda tak menghentikan pergerakan Semaoen. Bekerjasama dengan kelompok sosialis dan komunis serta para pelaut Indonesia. Namun, keputusan membuat kesepakatan dengan Perhimpunan Indonesia mengakibatkan pemecatan.
bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
transparant.png
bottom of page