top of page

Balas Dendam Setimpal Mantan Pengawal

Dianggap lalai dalam bekerja, seorang pengawal gubernur jenderal VOC dipukuli dan dipecat. Ia pun bertekad membalas dendam dengan membeli rumah megah majikannya itu.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Reinier de Klerk, gubernur jenderal VOC (1777-1780). (Rijksmuseum).

3 Okt 2023
4 menit membaca

Diperbarui: 22 Apr

JEHOEDE Leip Jegiel Igel, seorang Yahudi dari Polandia, mengadu nasib ke Hindia Belanda. Pemuda kelahiran 22 April 1755 di Grodno itu berlayar dari Rotterdam dengan menumpang kapal Huys de Kruyswijk.


Setelah tiba di Batavia pada 1775, ia menjadi tentara VOC. Ia bertugas sebagai pengawal Gubernur Jenderal Reinier de Klerk yang tinggal di rumah megah di Molenvliet (kini Gedung Arsip Nasional di Jalan Gajah Mada No. 111, Jakarta Barat). Ia membangunnya pada 1760 kala menjadi anggota Dewan Hindia. Rumah peristirahatan atau villa itu cukup jauh dari pusat kota Batavia Lama.


Sejarawan Adolf Heuken SJ menulis dalam Tempat-tempat Bersejarah di Jakarta, pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Reinier de Klerk yang menjabat dari 1777–1780, rumah besar di Molenvliet tersebut digunakan sebagai kediaman resmi pejabat tertinggi pemerintahan. Banyak tamu datang menghadap de Klerk untuk membahas berbagai hal termasuk bisnis sang gubernur jenderal.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Dibuang ke Belanda tak menghentikan pergerakan Semaoen. Bekerjasama dengan kelompok sosialis dan komunis serta para pelaut Indonesia. Namun, keputusan membuat kesepakatan dengan Perhimpunan Indonesia mengakibatkan pemecatan.
bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
transparant.png
bottom of page