top of page

Skandal Sesama Jenis Pejabat VOC

Joost Schouten digadang-gadang akan menjadi gubernur jenderal VOC karena bakat dan kecakapannya dalam perdagangan dan diplomasi. Namun, skandal sesama jenis tak hanya menghancurkan kariernya, tetapi juga merenggut nyawanya dengan tragis.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Ilustrasi eksekusi pejabat VOC Joost Schouten. Betaria Sarulina/Historia.ID

7 Sep 2025
6 menit membaca

Diperbarui: 21 Mar

PADA suatu hari di bulan Juni 1644. Gubernur Jenderal VOC, Antonio van Diemen (menjabat 1636–1645), belum lama menyelesaikan makan malamnya. Seorang halberdier, prajurit penjaga yang membawa tombak, datang menghadapnya untuk membicarakan hal penting. Prajurit muda yang berasal dari Champagne, Prancis itu melaporkan Joost Schouten, anggota Dewan Hindia, yang telah merayunya agar bersedia menjadi pasangannya.


Van Diemen terkejut mendengar laporan itu. Sadar aduan halberdier itu bisa menjadi fitnah karena tidak didukung bukti, terlebih orang yang diadukan adalah pejabat tinggi VOC dan tokoh berpengaruh di Batavia, sang gubernur jenderal menyuruhnya untuk mengatur pertemuan dengan Schouten.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
It was not without reason that Ahmad Subardjo was nicknamed “The Guarantor of Independence” in Indonesia. However, he was absent when Sukarno proclaimed independence.
bg-gray.jpg
Saat memimpin Jakarta, Sudiro dihadapkan pada kondisi berantakan. Putar otak demi pembangunan kota, termasuk cari dana di luar lungsuran dari pusat. Sering pula gagasannya ditolak pemerintah pusat.
bg-gray.jpg
Ahmad Subardjo was born in Karawang to a family of Acehnese and Javanese nobility. The beloved son of a civil service police officer, he moved to Batavia to continue his education at a Dutch school.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah became the first female minister in Indonesian history. She handled everything from diplomacy and labor issues to makeup and lipstick.
transparant.png
bottom of page