top of page

Di Balik Skandal Putri Angkat Gubernur Jenderal VOC

Skandal putri angkat Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen menghancurkan karier sejumlah pejabat VOC di Batavia. Namun, alih-alih kehilangan jabatan, Anthony van Diemen justru berhasil menjadi gubernur jenderal.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Jan Pieterszoon Coen. (Rijksmuseum Amsterdam).

5 Sep 2024
6 menit membaca

Diperbarui: 2 hari yang lalu

KEMARAHAN Gubernur Jenderal VOC Jan Pieterszoon Coen tak dapat dibendung. Putri angkatnya, Sara Specx, tertangkap basah melakukan perbuatan tak senonoh dengan Pieter Cortenhoeff, seorang pemuda berusia enam belas tahun, di kediamannya pada 1629. Sara yang berusia 12 tahun merupakan anak dari Jacques Specx, seorang anggota Raad van Indie (Dewan Hindia), dengan perempuan Jepang. Sementara Pieter merupakan putra dari saudagar senior Jacob Cortenhoeff dengan perempuan Burma.


Pada 1627, ketika Sara berusia 10 tahun dititipkan kepada Coen karena ayahnya harus kembali ke Belanda. Specx dipanggil para pemimpin VOC untuk memberikan informasi lengkap terkait perdagangan di Jepang. Bersama istrinya, Eva Ment, Coen yang puritan dan memegang teguh ajaran Calvinis, mendidik dan menanamkan pandangan moralnya kepada Sara.  


Coen dikenal sebagai pemimpin yang tegas dan keras, terlebih dalam menyoroti moral orang-orang Eropa di wilayah koloni. Pendiri kota Batavia ini tak ragu menunjukkan ketidaksenangannya terhadap pergundikan, perzinaan, dan pelacuran. Tak heran, ketika mengetahui putri angkatnya melakukan perbuatan asusila, Coen langsung menuntut agar Sara dan Pieter dijatuhi hukuman mati.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Dibuang ke Belanda tak menghentikan pergerakan Semaoen. Bekerjasama dengan kelompok sosialis dan komunis serta para pelaut Indonesia. Namun, keputusan membuat kesepakatan dengan Perhimpunan Indonesia mengakibatkan pemecatan.
bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
transparant.png
bottom of page