top of page

Perempuan-perempuan dalam Pelukan Hitler

Hitler akhirnya menikahi Eva Braun. Eva bukan satu-satunya perempuan dalam kehidupannya.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Adolf Hitler dan Eva Braun. (Bundesarchiv/Wikimedia Commons).

12 Mei 2020
5 menit membaca

Diperbarui: 20 Apr

RUANGAN sedalam 30 kaki di bawah tanah Gedung Kekanseliran Jermanitu begitu muram. Tak ada hiasan meriah, tiada jam dinding, tamu-tamu kehormatan, apalagi katering mewah. Situasi di Führerbunker itu sunyi meski mirip neraka di luarnya karena Pertempuran Berlin (16 April-2 Mei 1945) tengah berkecamuk.


Entah tanggal 28 April malam atau 29 April dini hari, Adolf Hitler dan Eva Braunmenanti dengan sabar kedatangan seseorang pejabat yang bakal mempersatukan mereka secara resmi. Hitler berbusana jas formal seperti biasanya, sementara Eva mengenakan gaun taffeta sutera hitam yang membuatnya tetap anggun. Sebagai saksi, hadir Menteri Propaganda Joseph Goebbels dan Ketua Partai Nazi Martin Bormann.


Orang yang dinanti, Walter Wagner, akhirnya hadir juga. Ia mesti melalui perjalanan mengerikan untuk mencapai Führerbunker. Bombardir tentara Uni Soviet kian hari kian merangsek ke Führerbunker. Wagner seorang pengacara yang juga kader Partai Nazi yang bekerja di kantor Kementerian Propaganda merangkap pejabat catatan sipil di pemerintah kota (pemkot) Berlin.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
bg-gray.jpg
Semaoen membawa Sarekat Islam cabang Semarang ke arah radikal. Pecah kongsi dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Semaoen membentuk Sarekat Islam Merah.
bg-gray.jpg
Semaoen dikenal sebagai wartawan yang tajam mengkritik pengusaha kapitalis dan pemerintah kolonial. Akibatnya, dia dipenjara karena delik pers. Selama ditahan, dia menulis Hikajat Kadiroen.
transparant.png
bottom of page