- 29 Mei 2020
- 5 menit membaca
Diperbarui: 1 Jul
SYAHDAN, sekelompok saudagar Minang kerap menyambangi rumah penjual mie rebus bernama Entong Sahari di Jalan Nagapatam 44 (kini Jalan Kediri, Kampung Keling) Medan. Mereka adalah pedagang Pasar Bundar kawasan Petisah yang datang pada malam hari untuk mengaji. Selain mengaji, para perantau itu sering berdiskusi tentang gerakan Islam. Beberapa diantara mereka bernama Djuin Sutan Penghulu, Sutan Maradjo, dan Haji Syuaib.
Menurut Kalimin Sunar dalam makalah yang termuat dalam Profil Muhammadiyah Sumatra Utara, para saudagar Minang itu telah menerima paham gerakan pembaharuan Islam di kampung halaman mereka. Gerakan pembaharuan itu tidak lain bernama Muhammadiyah yang didirikan K.H. Ahmad Dahlan di Yogyakarta pada 1912. Ketika mereka merantau ke Medan, ide untuk mendirikan Muhammadiyah pun terbersit. Mereka kemudian menghimpun kawan-kawan yang sepaham dalam pertemuan di Nagapatam 44.
Pada 1 Juli 1928, tersusunlah pengurus besar Muhammadiyah. Muhammad Said Harahap atau lebih dikenal Hr. Muhammad Said menjadi ketuanya yang pertama. Djuin Sutan Penghulu menjabat wakil ketua sedangkan Mas Pono dari Yogyakarta sebagai sekretaris. Penetapan tersebut menandai berdirinya secara resmi organisasi Muhammadiyah di Kota Medan.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















