- 5 Agu 2019
- 4 menit membaca
Diperbarui: 12 Jul
PULAU itu menjulang di Laut Lambri. Jaraknya satu hari satu malam jika berlayar ke arah barat dari Pulau Sumatra. Di sekitarnya ombak menggelora. Mega berarak.
Pada setiap musim semi beberapa ekor naga suka datang ke sana, bermain-main. Kalau sudah begitu, air liurnya banyak tertinggal di pulau. Karenanya orang menyebutnya sebagai Pulau Liur Naga.
Fei Xin, seorang personel militer yang ikut berlayar bersama Cheng Ho dalam buku Catatan Umum Perjalanan di Lautan (Xingcha Shenglan) menjelaskan ketika masih segar, air liur naga bentuknya seperti lemak. Warnanya hitam dan kuning. Baunya amis. Tapi nanti, bentuknya akan berubah menjadi gumpalan padat.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















