top of page

Repotnya Menyusun Pidato Sukarno

Ketelitian Bung Karno dalam merancang naskah pidato kenegaraan mungkin tak akan tertandingi oleh presiden-presiden Indonesia sesudahnya.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Presiden Sukarno di ruangan kerjanya di Istana Merdeka, 1950. (IPPHOS).

17 Agu 2021
4 menit membaca

SETIAP memperingati Hari Ulang Tahun Republik Indonesia, sudah kewajiban bagi Bung Karno untuk menyampaikan pidato kenegaraan. Menjelang 17 Agustus, kesibukan selalu terjadi di ruang tengah Istana Merdeka. Di tempat itulah Bung Karno biasa menyusun konsep pidatonya.


Ketelitian Sukarno dalam menyusun pidato kenegaraan diungkapkan oleh putra sulungnya, Guntur Sukarnoputra. Bung Karno, menurut Guntur dalam Bung Karno: Bapakku, Kawanku, Guruku, selalu mendiskusikan tema pidatonya terlebih dahulu dengan orang-orang penting seperti para menteri dan tokoh-tokoh masyarakat. Setelah itu, Sukarno mengumpulkan bahan-bahan pendukung melalui literatur, suratkabar, majalah, hingga berita dan laporan dari luar negeri.


Kebiasaan lain Sukarno dalam menyusun teks pidatonya adalah penggunaan pulpen kelas atas merk Parker dengan tinta warna biru merek Quink. Penulisan dilakukan di atas kertas kepresidenan ukuran folio. Setelah selesai ditulis tangan, naskah pidato itu kemudian diketik sebagai konsep. Sukarno kerap kali mengutip pemikiran dari tokoh-tokoh besar maupun istilah asing yang semakin menambah bobot pidatonya.  

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
bg-gray.jpg
Semaoen membawa Sarekat Islam cabang Semarang ke arah radikal. Pecah kongsi dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Semaoen membentuk Sarekat Islam Merah.
bg-gray.jpg
Semaoen dikenal sebagai wartawan yang tajam mengkritik pengusaha kapitalis dan pemerintah kolonial. Akibatnya, dia dipenjara karena delik pers. Selama ditahan, dia menulis Hikajat Kadiroen.
transparant.png
bottom of page