- 27 Mei 2023
- 5 menit membaca
Diperbarui: 20 Mei
KENDATI pandangannya tetap seksama menengok lembar demi lembar pidato di hadapannya, suara Presiden Sukarno kian lama kian menebal saat berpidato di sesi ke-15 Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York, 30 September 1960. Terlebih saat menyuarakan kebutuhan mendesak agar dunia mau ambil perhatian terhadap arus nasionalisme, kemanusiaan, dan perdamaian.
“Kemanusiaan di seluruh dunia mendambakan perdamaian dan itu ada di dalam kekuatan kita sekalian. Jangan dihalangi karena akan menyebabkan organisasi (PBB) ini diskreditkan dan ditinggalkan. Tugas kita bukanlah mempertahankan dunia yang seperti ini tapi untuk build the world anew (membangun dunia kembali),” ujar Bung Karno dalam pidatonya di forum tersebut sebagaimana terekam video yang diunggah laman multimedia PBB.
Sukarno lantas berhenti sejenak, mengambil napas. Satu lembaran pidato yang baru selesai dibaca lantas diopernya ke ajudannya, Letkol (CPM) Mohamad Sabur, yang berdiri di sampingnya.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















